Sabtu, 1 November 2014

News / Internasional

Kerukunan Umat Beragama Terancam

Rabu, 12 Oktober 2011 | 07:27 WIB

BERLIN, KOMPAS.com — Politik oportunis dan persoalan sistemis dalam hukum merupakan salah satu ancaman serius terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia. Kondisi yang terus dibiarkan itu membuat konsep kenegaraan yang sangat baik tentang kerukunan tidak berjalan, bahkan terancam mandek.

”Konsep kenegaraan kita tentang kerukunan sudah sangat baik,” ujar Ketua International Conference of Islamic Scholars Indonesia (ICIS) Dr KH Hasyim Muzadi di Berlin, Jerman, Senin (10/10/2011). ”Pertanyaannya, apakah Undang-Undang Dasar kita yang diamandemen itu selaras atau semakin lari dari semua sila dalam Pancasila?”

KH Hasyim Muzadi menjadi salah satu anggota delegasi Dialog Lintas Iman di Polandia dan Jerman, 4-13 Oktober. Dialog yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Agama, dengan negara-negara mitra itu merupakan bagian dari soft diplomacy sejak tahun 2002 untuk meluruskan kesalahpahaman Barat mengenai Islam, terutama sejak peristiwa serangan 11 September 2001 di New York, dan menjelaskan posisi Islam Indonesia dalam konstelasi Islam di dunia.

Ibarat menebang pohon

Jawaban KH Hasyim Muzadi itu terkait dengan pertanyaan seorang warga Indonesia di Berlin tentang isu kebebasan beragama di Indonesia, khususnya kasus GKI Yasmin di Bogor. Kasus itu belum ada titik temu karena sikap wali kota yang bersikukuh mencabut IMB GKI Yasmin, sementara Mahkamah Agung sudah membekukan surat pencabutan itu.

”Kita harus berani mempertanyakan apakah kebijakan dan strategi yang dibuat kekuasaan itu berjalan seiring Pancasila atau hanya untuk kepentingan politik kekuasaan,” lanjutnya.

KH Hasyim Muzadi mengibaratkan amandemen UUD itu seperti memotong pohon mangga yang sudah agak besar, lalu menyambung batangnya dengan pohon jambu. ”Maka ada hukum, tetapi tidak ada keadilan karena hukum berhenti pada prosedur.”

Pertanyaan lain, benarkah politik telah membangun penataan kenegaraan serta perlindungan dan pencerdasan masyarakat? Benarkah pendidikan sampai pada karakter bangsa? Benarkah kebudayaan sampai pada harga diri bangsa?

”Kalau semua jawabnya ’tidak’, kita tak menuju pada substansi dan kalau hukum, politik, dan kekuasaan tak sampai pada substansi, para pemimpinnya akan kehilangan kepercayaan atau trust dari masyarakat.”

Dibayangi

Salah satu mahasiswa program doktoral dari Indonesia, Syafiq Hasyim, mengatakan penjelasan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Dr Bahrul Hayat bahwa kasus GKI Yasmin hanyalah satu kasus dari sekitar 150.000 gereja di Indonesia yang hidup berdampingan dengan damai dengan masyarakat sekitar.

”Penjelasan itu sulit meyakinkan masyarakat internasional tentang kondisi baik masalah kebebasan beragama di Indonesia,” ujar Syafiq yang melihat negara lemah karena terkesan terus membiarkan kasus-kasus terkait kebebasan beragama di Indonesia.

Dialog juga dibayangi rangkaian peristiwa serangan bom yang dilakukan jaringan teroris di Indonesia serta aksi pengeboman dan perusakan rumah ibadah yang mencoreng ”wajah” Indonesia. (Maria Hartiningsih dari Berlin, Jerman)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: