Senin, 24 November 2014

News / Internasional

Ini Mobil Lapis Baja, Jangan Cemas!

Selasa, 23 Agustus 2011 | 15:22 WIB

Terkait

TRIPOLI, KOMPAS.com — "Jangan cemas, ini kendaraan lapis baja," kata sopir mobil BMW yang membawa tiga wartawan saat mereka berangkat untuk mewawancarai Saif al-Islam, putra kedua Moammar Khadafy, Senin (22/8/2011) malam waktu setempat. Saif, sehari sebelumnya, diklaim pemberontak Libya telah ditangkap dan ditahan.

Wartawan AFP, Imed Lamloum, yang ikut dalam mobil BMW itu mengaku cukup terkejut begitu diundang untuk mewawancara Saif, putra berpengaruh Moammar Khadafy, saat dunia diberi tahu bahwa dia telah jatuh ke tangan pemberontak ketika mereka memasuki Tripoli pada hari Minggu dalam upaya terakhir untuk menggulingkan Khadafy senior. Bahkan, yang lebih membingungkan adalah bahwa Jaksa Penuntut Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC), Luis Moreno-Ocampo, telah mengonfirmasi penangkapan itu dan mengatakan ia sedang berdiskusi dengan oposisi Libya untuk mengamankan perpindahan Saif ke ICC, tempat ia akan menghadapi dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Suasana tegang menyelimuti perjalanan tersebut. Soalnya, jalanan gelap di kota Tripoli, menurut para pemberontak, telah mereka kuasai hingga 95 persen. Lamloum menulis, pencahayaan yang minim akibat listrik padam serta jalanan kosong yang sebelumnya menjadi tempat pertempuran antara pemberontak dan pasukan Khadafy terkesan asing dan menimbulkan kecemasan.

Selama perjalanan yang ternyata hanya dua kilometer, antara Hotel Rixos tempat wartawan media asing banyak ditempatkan dan kompleks Khadafy Bab al-Azizya, tindakan pengemudi menjadi tidak menentu. Ia kadang-kadang mematikan lampu, lalu mempercepat laju secara liar, atau tiba-tiba melambat.

Akhirnya kendaraan itu tiba di salah satu pintu masuk ke kompleks luas Khadafy, yang menderita kerusakan hebat akibat pengboman berulang-ulang oleh pesawat tempur NATO, yang mendukung para pemberontak Libya. Pengemudi dipaksa untuk menjalankan mobil di trotoar demi menghindari penghalang beton.

Para penjaga lalu membuka gerbang. Para wartawan kini berada di jantung Bab al-Aziziya. Puluhan pikap dan kendaraan 4 x 4, yang dilengkapi senapan mesin atau senjata anti-pesawat, memenuhi lokasi itu.

Mobil akhirnya berhenti di depan "rumah perlawanan", sebuah reruntuhan bangunan yang dibom tahun 1996 oleh pesawat tempur Amerika dalam sebuah serangan yang juga menewaskan putri adopsi Khadafy. Puluhan pendukung rejim, yang berpikir putra Khadafy telah datang, mulai meneriakkan slogan-slogan dan melambaikan bendera Libya. Mereka meneriakkan "Allahu Akbar, Moammar, Libya," menyanyi, mengacungkan gambar Saif dan ayahnya sebelum mengintip ke dalam kendaraan hanya untuk menemukan bahwa yang datang wartawan. Namun, mereka masih tidak mau bergerak menjauh dari mobil itu.

Saif, yang mengenakan T-shirt khaki, tiba dalam kendaraan 4x4 lapis baja. "Masuk, cepat" kata salah satu pria yang menyertainya kepada para wartawan sambil menunjuk ke kendaraan 4x4 yang lain.

Kendaraan-kendaraan itu berhenti setelah beberapa ratus meter di sebelah lapangan kosong yang diterangi lampu. Semua orang keluar. Saif didampingi para pengawalnya masuk ke pertemuan dengan wartawan itu.

Sejumlah loyalis menempelkan bendera hijau Libya di belakang kursi tempat Saif duduk. Di sebuah meja kopi, mereka menempatkan bendera kecil Libya, sebuah Al Quran, dan Buku Hijau Khadafy, buku terbitan tahun 1975 tempat ia menuangkan filsafatnya.

"Apakah Anda melihat pertempuran hari ini?" tanya Saif sambil tersenyum. "Tidak, kami hanya mendengar suara pertempuran," jawab salah seorang wartawan. Sekitar 30 kru media asing lainnya meringkuk di hotel yang telah ditinggalkan oleh para stafnya itu. Sudah dua hari tidak ada listrik atau air di hotel tersebut.


Editor : Egidius Patnistik