Kamis, 28 Agustus 2014

News / Internasional

Cerita dari Kereta China

Sabtu, 30 Juli 2011 | 08:22 WIB

KERETA api dapat banyak bercerita tentang sebuah negara. Sistem kereta api di Jerman dan Perancis, misalnya, mencerminkan kedigdayaan mereka dalam teknologi. Jaringan kereta cepat Shinkansen di Jepang menggambarkan tingkat presisi Negara Matahari Terbit tersebut.

Kereta bawah tanah yang rapi dan bersih di Singapura menggambarkan keteraturan negara mungil itu. Sebaliknya, kereta api negara berkembang yang penumpangnya naik di atap gerbong, tak membeli karcis, kereta sering terlambat, mogok, celaka, seperti di India dan Indonesia, juga mencerminkan bagaimana keadaan negara tersebut.

Sebelum kecelakaan di Wenzhou, ambisi China punya jaringan kereta api cepat di dunia berkobar-kobar. Jaringan kereta api itu mencerminkan pertumbuhan pesat perekonomian China.

Kecelakaan yang akhirnya merenggut nyawa 40 orang hingga Jumat (29/7) membuat banyak orang terenyak dan semakin mempertanyakan keamanan operasional kereta.

Apakah proyek ambisius ini ternyata menghasilkan jaringan kereta api yang tidak aman? Tahun 2009 saja, China menggelontorkan dana 90 miliar dollar AS hanya untuk jaringan rel kereta. Di luar itu, tersedia dana 500 miliar dollar AS hanya untuk mempercepat laju kereta menjadi 350 kilometer per jam, mengalahkan TGV Perancis yang mampu berlari 320 kilometer per jam.

Sejak jaringan kereta cepat pertama dibuka 2003, China telah menambah lebih dari 1.000 kilometer jaringan kereta api per tahun. Mengingat kecepatan pembangunan, pantaslah jika ada yang khawatir pembangunan jaringan itu kurang memenuhi standar yang ditetapkan.

Awal tahun ini menteri kereta api dipecat karena ”melanggar disiplin”. Seorang sumber mengatakan kepada New York Times, ada upaya mengurangi pemakaian bahan kimia yang digunakan untuk memperkeras landasan jalur kereta.

Walhasil, kecepatan kereta yang tadinya 350 kilometer per jam diturunkan menjadi 300 kilometer per jam. Dunia juga tahu China membangun jaringan keretanya dengan cepat, murah, dan teknologi yang ditingkatkan dari teknologi asing. China selalu mengatakan, mereka ”mengolah” teknologi dari Jepang dan Kanada, lalu dimatangkan oleh ilmuwan China.

Pan Yiheng, masinis pada kereta kedua yang melaju, yakin jalan di depannya dapat dilalui karena lampu sinyal berwarna hijau. Ketika menyadari kesalahan itu, ia sempat menarik rem darurat sebelum tewas. Sistem persinyalan yang berisiko terjadi malafungsi itu ternyata terpasang pada 76 stasiun kereta di seantero negeri. China rupanya harus segera membenahi jaringan keretanya jika tidak mau jatuh korban lagi. (JOE)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: