Jumat, 19 September 2014

News /

Istri Taat Suami

Minggu, 3 Juli 2011 | 05:05 WIB

 KRISTI POERWANDARI 

”Berdosakah bila saya tidak mampu memenuhi tuntutan suami? Mengapa istri saja yang dituntut untuk membahagiakan suami? Bagaimana dengan kewajiban suami membahagiakan istri?”

Keluhan dari seorang istri yang sangat tertekan yang dikutip di atas barangkali akan makin banyak disuarakan, entah dengan terbuka ataupun diam-diam, bila masyarakat menelan mentah-mentah ”klaim” ajaran agama yang disuarakan kelompok tertentu tentang bagaimana menjaga keharmonisan keluarga.

Ada yang yakin, ketaatan penuh istri kepada suami dapat mengobati berbagai persoalan sosial. Istri tidak boleh sekadar terampil memasak dan menjadi ibu yang baik, tetapi juga ”patuh” dan ”memberi layanan penuh” kepada suami. 

Memprihatinkan bahwa tuntutan kepatuhan total istri tersebut justru akhir-akhir ini disuarakan oleh kelompok perempuan sendiri. Dalam konseling psikologi, saya sering menemui perempuan-perempuan yang sangat tertekan dalam perkawinannya karena sudah sangat sibuk mencari uang akibat suami tidak mau atau tidak mampu bertanggung jawab, masih teraniaya karena suami marah besar akibat baju yang dicucinya ”kurang bersih” atau makanan yang disajikan kurang sesuai dengan selera suami. Cukup sering pula situasi diperburuk oleh bagaimana perempuan lain (misalnya ibu mertua atau perempuan yang lebih punya otoritas) ikut melakukan penekanannya.

Bekerja jauh 

Teman saya melakukan penelitian pada perempuan buruh migran, bertanya mengapa mereka bersedia bekerja sangat jauh dengan berbagai risiko. Sebenarnya merekalah breadwinner, tetapi banyak perempuan disosialisasi untuk ”merendahkan diri” di depan suami, jadi hanya bilang, ”Untuk bantu-bantu suami mencari nafkah.”

Jangankan diakui perannya sebagai pencari nafkah utama, cukup sering mereka dipersalahkan, ”Kok tega-teganya meninggalkan suami.”

Sangat mengherankan bila istri harus bekerja jauh, berisiko teraniaya, dipenjara, bahkan kehilangan nyawa, sementara suami tidak bekerja dan mungkin berpoligami, masih dilayangkan berbagai kritik, penyalahan, dan tuntutan-tuntutan terhadap perempuan. Kenyataannya, anak-anak sudah lahir dari perkawinan yang dijalani. Ibu yang bertanggung jawab tidak akan tinggal diam saja: anak-anak akan makan apa bila bapak-ibunya tidak bekerja? 

Dalam nasihat perkawinan masih sering kita mendengar tuntutan ketaatan satu arah dari istri kepada suami. Mengingat masyarakat Indonesia sangat agamais, ajaran agama menjadi sangat terinternalisasi. Perempuan sangat takut akan berdosa bila tidak mematuhinya meski harus merasakan konflik batin dan beban yang besar.

Wejangan demikian sekaligus mendidik sebagian laki-laki untuk tidak berefleksi, bila ada masalah sibuk menyalahkan pihak lain (perempuan), dan kehilangan sisi kemanusiaan yang peduli dan welas asih, terutama kepada istri sendiri. Ketika ada KDRT, sering yang dipersalahkan adalah istri, misalnya karena berbicara kasar kepada suami, tanpa ditelaah mengapa sampai demikian, dan bagaimana dengan pemenuhan kewajiban suami terhadap istri? 

Dalam kenyataan keseharian, tentu ada istri yang tidak memberikan dukungan kepada suami dan bersikap kasar, sementara suami lebih menunjukkan kasih sayang. Sama seperti sikap kasar dan semena-mena dari suami tidak dapat diterima, demikian pula bila itu ditampilkan istri. Yang perlu diadvokasikan adalah kesetaraan dan kerja sama yang adil dan tulus: saling dukung dan saling hormat antara perempuan dan laki-laki, bukan hanya satu arah dari satu pihak ke pihak lainnya. Pembakuan peran tidak perlu dipaksakan dari luar, suami-istri itu sendiri dapat mendiskusikan yang dianggap paling baik bagi semua, bukan salah satu pihak saja. 

Untungnya, cukup banyak dari kita yang masih dapat berpikir dengan pikiran yang sejernih-jernihnya: masa Tuhan menganjurkan berbagai nilai dan praktik ketidakadilan? Bukankah perempuan dan laki-laki sama-sama manusia, yang sejak lahir telah membawa hak-hak dasar dan martabat kemanusiaannya? 

Maka, laki-laki yang menghormati dirinya sendiri sebagai manusia bermartabat, dan menghormati perempuan sebagai sesama manusia yang juga bermartabat, malah malu dengan anjuran ketaatan total istri kepada suami. Memangnya laki-laki itu makhluk egois yang cuma sibuk memikirkan kepentingan dan kekuasaannya sendiri, tidak mampu menghormati pihak lain dan tidak punya kepedulian? Dan senang bila istrinya menderita karena harus bekerja keras melayaninya dan ia ongkang-ongkang kaki saja?

Jauh lebih baik 

Di dunia pendidikan sekarang kita mengamati betapa murid perempuan menunjukkan prestasi lebih baik daripada murid laki-laki. Saya tidak mengatakan perempuan lebih pandai daripada laki-laki, ada banyak dugaan penjelasan yang sulit untuk diurai dalam tulisan pendek ini. Yang ingin disampaikan, perempuan telah bekerja keras untuk memperoleh pendidikan profesional, dengan biaya sendiri ataupun beasiswa, jadi sangat tidak adil dan merupakan pemborosan besar negara bila perempuan dibatasi partisipasinya, dihambat aktualisasi potensi dan kemampuannya. 

Korupsi, kemiskinan, pornografi, meluasnya adiksi napza tidak ada hubungan dengan ketidaktaatan istri. Mengajarkan ketaatan satu arah dari istri kepada suami untuk mengobati persoalan sosial sangat jauh panggang dari api: maksudnya, benar-benar menyederhanakan persoalan, salah arah dan merupakan pembodohan.

Di era di mana negara-negara harus bersaing di tingkat global untuk dapat mempertahankan eksistensinya, justru partisipasi optimal dan kerja sama yang adil dan saling menghormati dari perempuan dan laki-laki menjadi prasyarat utama yang dapat menjamin pemajuan bangsa.


Editor :