Sabtu, 20 September 2014

News / Internasional

Kisah Saksi Mata Penyerbuan Osama

Selasa, 3 Mei 2011 | 07:15 WIB

SOHAIB Athar (33) menyimpan trauma akan kehidupan kota besar setelah anak dan istrinya terluka parah dalam kecelakaan lalu lintas di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan, beberapa bulan lalu.

Abbottabad, kota yang relatif sepi dan sejuk di bagian utara Pakistan, menjadi pilihan Athar untuk menjalani kehidupan yang tenang. Namun, ketenangan itu hilang pada Senin (2/5/2011) dini hari.

Awalnya, pemrogram komputer ini dikejutkan suara helikopter yang memecah keheningan Abbottabad sekitar pukul 01.00. Sebagai pecandu jejaring sosial Twitter, Athar pun langsung men-tweet peristiwa langka itu, ”helikopter berputar-putar di atas Abbottabad pada pukul 01.00”.

Athar pun terus memperbarui tweet-nya saat Abbottabad menjadi makin gaduh setelah kedatangan helikopter pertama itu. Helikopter kedua dan ketiga menyusul, lalu diikuti suara ledakan yang membuat kaca jendela bergetar, kemudian suara helikopter jatuh.

Awalnya ia menyangka itu kecelakaan latihan militer. Kehadiran militer memang bukan hal aneh di kota yang didirikan perwira militer Inggris, James Abbott, tahun 1853 itu.

Tiga resimen pasukan Divisi 2 Angkatan Darat Pakistan bermarkas di kota itu. Demikian juga Akademi Militer Pakistan.

Yang tidak Athar ketahui, suara gaduh itu berasal dari operasi militer pasukan komando Amerika Serikat (AS) yang menyerang rumah mewah tempat persembunyian buronan nomor satu AS, pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden. Tanpa ia sadari, Athar memberikan ”laporan pandangan mata” operasi militer terpenting dalam perang melawan terorisme itu secara langsung melalui Twitter.

Athar dan warga Abbottabad lain baru mengetahui peristiwa tersebut setelah menyalakan televisi pagi hari dan melihat Presiden AS Barack Obama menyampaikan kabar tewasnya Osama bin Laden. ”Osama bin Laden tewas di Abbottabad, Pakistan. Hilang sudah ketenangan kota ini,” demikian bunyi tweet Athar setelah mengetahui kabar itu.

Tak menyangka

Athar dan hampir semua orang di dunia tidak pernah menyangka, pasukan AS akan menemukan Osama bin Laden di kawasan perumahan mewah di Abbottabad, bukan di sebuah goa di kawasan perbatasan Afganistan-Pakistan, seperti diduga selama ini.

”Bahkan, dalam imajinasi terliar pun kami tak pernah menduga Osama bin Laden tinggal di rumah ini,” ujar Aurangzeb Khan, seorang sopir di kota yang menjadi salah satu lokasi tujuan wisata karena berhawa sejuk, berpemandangan indah, dan dianggap sebagai salah satu kota teraman di Pakistan.

Seorang warga, Mohammad Haroon Rasheed, mengatakan, serangan terjadi tepat pukul 01.15. Ejaz Mahmood, seorang penjahit di Abbottabad, mengaku mendengar satu suara ledakan, Senin dini hari, dan melihat bola api jatuh dari langit.

Suara itu diikuti serentetan ledakan lain, helikopter hilir mudik di udara, dan suara tembakan. Warga pun terbangun dari tidur dan berebut keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. ”Kami dengar suara sirene ambulans dan suara petugas keamanan berteriak. Kami lihat api keluar dari rumah itu. Semua orang ketakutan,” kata seorang warga yang takut menyebutkan namanya.

Mereka begitu ketakutan sehingga tak mengizinkan anak-anak berangkat sekolah pagi harinya. ”Polisi dan petugas keamanan lain menyisir seluruh kawasan dan kami tak boleh keluar rumah,” tuturnya.

Dijaga ketat

Menurut sumber intelijen AS, rumah yang dihuni Osama bin Laden itu dibangun sekitar enam tahun lalu di lokasi yang awalnya terpencil dari kawasan kota. Warga masih mengingat lokasi itu dulunya adalah kebun kentang yang dikelilingi hutan pohon kayu putih.

Rumah itu kini menjadi rumah terbesar dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya dan dikelilingi tembok setinggi 3,6-5,5 meter dengan kawat berduri di atasnya. Seorang tetangga, Mazhar Ahmed (40), mengatakan, ia pernah melihat kabel listrik terjalin dengan kawat berduri itu.

Selain dilengkapi dengan kamera monitor di setiap sudut, rumah itu juga dijaga ketat. Salman Riaz, seorang aktor film, pernah berniat shooting film di dekat rumah itu sekitar lima bulan lalu. Tiba-tiba dua pria keluar dari rumah itu dan melarang mereka mengambil gambar. ”Mereka bilang itu haram,” ujar Riaz.

Khan menambahkan, orang di sekitar rumah itu hanya tahu pemiliknya bernama Arshad. Ia biasa keluar rumah untuk membeli 10-15 roti di warung setiap jam makan.

Kini, rahasia penghuni rumah itu yang sesungguhnya sudah terkuak. Kedamaian pun tak lagi mewarnai Abbottabad. ”Kami stres. Kami khawatir dengan keselamatan kota ini (karena) sekarang jadi pusat perhatian dunia,” tutur Mahmood. (AFP/AP/WASHINGTONPOST.COM/DHF)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: