Shutterstock
KOMPAS.com — China diduga kembali "membungkam" demokrasi. Caranya, pemerintah Negeri Tembok Besar itu mengenakan status tahanan rumah kepada aktivis Chen Guangcheng. "Saya baru meninggalkan penjara kecil dan memasuki gedung penjara yang besar," kata Chen Guangcheng dalam rekaman video rahasia yang disiarkan pegiat yang berkantor di Amerika Serikat sebagaimana warta AP dan AFP pada Kamis (10/2/2011).
Inilah komentar pertama Chen sejak dibebaskan dari penjara pada September lalu. Dia menuduh penguasa China melakukan aborsi paksa. Sampai kini, China belum membenarkan berita penahanan rumah pegiat tersebut.
Kelompok pegiat dari AS, China Aid, menyatakan menerima film berdurasi satu jam dari "sahabat anonim dari pemerintah di China". Dalam video itu, istri Chen merekam apa yang tampaknya merupakan agen keamanan China. Sosok itu bertengger di tangga dan mengintip rumah di Provinsi Shandong.
Berdiri di rumahnya, pengacara tunanetra ini melukiskan bagaimana dalam lima bulan dia dalam pengawasan selama 24 jam. Saluran teleponnya diputus dan sejumlah pria dengan kendaraan menghalangi akses ke rumahnya. "Siapa pun yang menolongnya diancam," katanya.
"Saya bahkan tidak dapat keluar rumah setengah langkah pun. Istri saya juga tidak diizinkan meninggalkan rumah. Hanya ibu saya dapat keluar rumah untuk membeli makanan," kata pegiat yang menawarkan bantuan hukum gratis kepada warga setempat.
"Chen tinggal dalam kondisi mengenaskan. Semua kontak ke luar diputus. Ia ditahan secara tidak sah di rumahnya," ujar Bob Fu, pendiri dan presiden China Aid.
Chen ditahan sejak dia bebas dari hukuman empat tahun penjara pada September lalu. Dia menuduh para pejabat lokal memaksa 7.000 perempuan di Provinsi Shandong melakukan aborsi dan sterilisasi. Namun, dia didakwa merusak properti dan mengganggu lalu lintas.
Bulan lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengangkat kasus Chen dan menyerukan pembebasan terhadap dia, peraih Nobel Perdamaian, Liu Xiabo, dan pengacara lain yang juga ditahan, Gao Zhisheng.
