Senin, 1 September 2014

News /

Hukuman Mati di Korut

Selasa, 25 Januari 2011 | 04:10 WIB

SEOUL, SENIN - Penguasa Korea Utara kembali memperlihatkan kekejaman atas rakyatnya sendiri. Dua warga negara mereka, seorang di antaranya perwira Angkatan Darat, dieksekusi dengan cara ditembak mati di depan umum lantaran kedapatan menyimpan selebaran propaganda anti-Korut.

Selebaran-selebaran seperti itu memang kerap disebar ke wilayah Korut oleh para aktivis anti-Korut di Korea Selatan dengan cara menerbangkannya melewati perbatasan kedua negara. Eksekusi itu dipublikasikan secara resmi oleh Korut, Januari ini.

Menurut salah seorang aktivis Korsel, Choi Sung-yong, Senin (24/1), korban eksekusi kedua adalah seorang perempuan berusia 45 tahun. Bersama perwira AD Korut itu, keduanya kedapatan mengantongi dan menyimpan lembaran uang dollar AS, yang menyertai selebaran propaganda anti-Korut. Eksekusi digelar di depan umum pada 3 Januari lalu di Sariwon, 45 kilometer sebelah selatan Pyongyang.

Menurut Choi, eksekusi disaksikan oleh 500 orang dalam sebuah acara pertemuan khusus membahas selebaran-selebaran propaganda tersebut. Tidak hanya itu, enam anggota keluarga tereksekusi juga ditangkap dan dikirim ke kamp penjara khusus tahanan politik.

”Pemerintah Korut sepertinya melakukan eksekusi itu untuk memberikan pelajaran kepada rakyatnya. Rezim di sana tampaknya ingin memperketat kontrol ideologis menyusul proses suksesi kepemimpinan Korut,” ujar Choi.

Lebih lanjut menurut Choi, dari 500 penonton itu, 50 orang di antaranya dipaksa menyaksikan proses eksekusi. Mereka adalah orang Korsel yang pernah diculik atau bekas tawanan perang Korut. Ayah Choi sendiri diculik oleh Korut.

Choi lalu membentuk sebuah organisasi yang berupaya menyelamatkan bekas tawanan perang (POW) atau mereka yang diculik Korut. Pihak Korsel memperkirakan ada sekitar 500 bekas tawanan perang semasa konflik bersenjata di kawasan Semenanjung Korea, tahun 1950-1953, yang tidak pernah dipulangkan Korut. Diperkirakan ada sekitar 480 orang Korsel yang diculik Korut pascaperang. Pyongyang selama ini menolak tuduhan telah menculik warga Korsel itu.

Selebaran dan uang

Para aktivis Korsel, termasuk Choi, memang kerap menyebarkan selebaran propaganda anti-Korut dengan cara menerbangkannya melewati wilayah perbatasan kedua Korea ke wilayah Korut. Selebaran itu diterbangkan dengan diikat ke balon gas. Selain selebaran, juga diterbangkan cakram digital (DVD), juga berisi propaganda menentang Korut. Semua selebaran dan cakram DVD itu disertai dengan lembaran uang pecahan satu dollar AS.

Menurut aktivis Korsel, uang yang disertakan dalam selebaran-selebaran propaganda itu bertujuan untuk menarik perhatian rakyat Korut agar mengambilnya walau ada risiko terancam hukuman berat.

Cara para aktivis Korsel itu sudah sejak lama memicu kemarahan Korut, yang memerintahkan rakyatnya membuang semua selebaran yang mereka temukan. Tak hanya itu, aparat juga mengancam akan menembaki lokasi-lokasi di Korsel yang biasa dipakai para aktivis Korsel untuk menerbangkan balon-balon udara berisi selebaran propaganda anti-Korut. Korut juga mendesak Pemerintah Korsel turun tangan mencegah atau menghentikan aksi para aktivis tersebut.

Jumlah eksekusi naik

Dalam kesempatan terpisah, anggota legislatif Korsel dari Partai Nasional Utama (GNP), Yoon Sang-hyun, Selasa pekan lalu, melansir adanya peningkatan jumlah eksekusi mati di depan umum oleh Pyongyang selama setahun terakhir. Informasi itu didasari data intelijen, yang menyebut sedikitnya 22 kali eksekusi mati di depan umum selama setahun terakhir, terutama pasca-kegagalan kebijakan keuangan pemerintah.

Menurut Yoon, yang juga anggota Komite Perdagangan dan Unifikasi, pada Desember 2009 Pyongyang mengeksekusi 10 orang, 2 orang di antaranya perempuan, atas beragam tuduhan seperti perampokan, pemerkosaan, dan pelacuran. Pada bulan itu seorang komandan pasukan perbatasan juga dieksekusi karena dituduh menyelundupkan narkotika dan kejahatan perdagangan manusia.

Januari 2010, seorang perwira pasukan perbatasan juga dieksekusi karena dianggap membantu pelarian sekeluarga pembelot. Sebulan kemudian, dua warga Korea beretnis China dihukum mati karena dituduh membocorkan informasi rahasia.

Sementara pada Maret 2010, Pyongyang mengeksekusi dua pejabat tinggi bidang finansial dan badan perencanaan partai atas tuduhan spionase. Mereka ditembak mati di depan umum karena kebijakan ”reformasi keuangan” mereka, yang tadinya akan diklaim sebagai keberhasilan Kim Jong Un jika sukses, ternyata gagal dan memicu keresahan di Korut.

Masih pada bulan Maret, dua orang dieksekusi karena pemalsuan uang. Sementara pada bulan April, seorang komandan peleton penjaga perbatasan dieksekusi karena dianggap membantu pelarian. Dua orang lainnya dieksekusi pada bulan Juni karena membunuh dan kejahatan perdagangan manusia.

(AFP/THE CHOSUNILBO/DWA)


Editor :