Senin, 20 Oktober 2014

News /

TIMUR TENGAH

Hezbollah Punya 40.000-50.000 Rudal Balistik

Kamis, 9 Desember 2010 | 04:06 WIB

Bocoran dokumen rahasia dari situs WikiLeaks mengungkapkan, Hezbollah memiliki 40.000-50.000 rudal balistik tipe Fatih 110 yang mampu mencapai kota Tel Aviv dan sebagian besar wilayah Israel. Hezbollah juga memiliki 10 rudal canggih tipe Scud D.

Dalam kawat diplomatik tertera November 2009 yang ditulis Kuasa Usaha AS di Damaskus diungkapkan, tindakan Suriah terus membantu mengembangkan kekuatan militer Hezbollah, khususnya terus menyuplai rudal jarak jauh dan memiliki sistem tembak terarah, bisa mengubah perimbangan kekuatan di kawasan dan dapat memicu perang yang lebih menghancurkan dibanding perang Israel-Hezbollah tahun 2006.

AS, menurut kawat diplomatik itu, mengakui Suriah terus memasok senjata kepada Hezbollah mungkin bertujuan untuk memperkuat daya tawar-menawarnya dengan Israel dalam perundingan damai ataupun dalam situasi tegang.

Dalam kawat diplomatik tersebut, sejumlah pejabat Israel menyampaikan kepada sejumlah pejabat AS, dalam perang Israel-Hezbollah mendatang, Hezbollah akan menembakkan 400 hingga 600 rudal setiap hari ke arah berbagai sasaran di Israel selama sekitar dua bulan.

Hezbollah juga memiliki instalasi militer di wilayah Suriah yang akan menjadi sasaran serangan Israel jika meletup konflik militer Israel-Hezbollah pada masa datang.

Diungkapkan pula, Arab Saudi mengusulkan membentuk satuan militer dengan dibantu AS, NATO, dan PBB untuk memerangi Hezbollah di Lebanon.

Dalam kawat diplomatik tertera Mei 2008, Menlu Arab Saudi Pangeran Suud al-Faisal mengatakan, harus ada reaksi militer melawan kelompok bersenjata loyalis Iran di Beirut.

Hezbollah sempat menguasai Beirut Barat pada Mei 2008 dalam konflik dengan Pemerintah Lebanon pimpinan Perdana Menteri Fouad Siniora.

Menurut Faisal, bila Hezbollah menang atas Pemerintah Lebanon secara militer, Iran semakin menancapkan pengaruhnya di Lebanon.

Kawat diplomatik AS seperti dirilis situs WikiLeaks mengkritik keras penyebaran senjata di Timur Tengah, terutama yang berasal dari Suriah dan Iran.

Para diplomat AS memantau perusahaan, perbankan, dan perusahaan kapal kargo yang masuk daftar hitam di mancanegara yang dicurigai terlibat pendanaan dan pengiriman senjata ke faksi-faksi radikal di Timteng, khususnya Hezbollah.

Sejumlah pejabat AS pernah berusaha mencegah seorang pedagang senjata asal Serbia menjual senjata khusus untuk sniper kepada Yaman dan teknologi rudal China kepada Pakistan.

Para diplomat AS dalam kawat diplomatiknya tertera bulan Februari 2009 menyampaikan kecemasannya atas aktivitas pesawat kargo milik maskapai penerbangan swasta Sudan, Al Badar, yang mengangkut senjata dari Iran ke Sudan untuk kemudian dicanangkan dikirim ke Hamas di Jalur Gaza. (mth)


Editor :