Selasa, 25 November 2014

News / Internasional

Kunjungan Presiden AS

Air Force One, Magnet Lain Obama

Selasa, 9 November 2010 | 15:21 WIB

Terkait

KOMPAS.com — Selain magnet Presiden Obama dan segala perangkat yang datang bersamanya, salah satu hal yang layak menjadi pusat perhatian adalah pesawat yang bakal membawa Presiden Amerika Serikat itu mendarat di Indonesia, Selasa (9/11/2010). Pesawat putih bergaris biru jenis Boeing VC-25 yang merupakan modifikasi dari Boeing 747-200B itu acap disebut sebagai Air Force One, meski Air Force One sendiri sebenarnya callsign untuk pesawat yang ditumpangi Presiden AS, apa pun pesawatnya.

Berikut adalah tulisan mengenai Air Force One yang dimuat di majalah Commando, edisi khusus pesawat Kepresidenan Amerika Serikat. Bukan sekadar fisik pesawatnya yang menjadi lambang kehadiran Presiden AS, melainkan simbol-simbol lain yang melekat padanya menunjukkan siapa yang menjadi penumpangnya:

Saat roda-roda VC-25 Air Force One menyentuh landasan di negara sahabat, pesawat ini tidak hanya menjadi simbol kepresidenan Amerika Serikat, tetapi sekaligus proyeksi kekuatan secara halus.

Tidak seperti negara-negara lain yang hanya menggunakan satu pesawat kepresidenan dan datang secara low profile, kedatangan pesawat kepresidenan AS selalu merupakan sebuah pertunjukan besar. AS menuntut lebih dari sekadar gelaran karpet merah dan barisan prajurit kehormatan. Air Force One datang dengan paket lengkap, dan selalu merepotkan negara yang dikunjungi.

Selain diiringi atau didahului oleh C-17 Globemaster III atau C-5 Galaxy yang membawa semua perlengkapan sang presiden, seperti helikopter Marine One, limusin kepresidenan, dan para agen US Secret Service, bisa dipastikan ruang udara di sekitar bandara sudah harus dikosongkan. Penerbangan lain ditunda atau dibatalkan, dan area di sekitar tempat parkir AF I juga harus disterilkan dan bahkan dijaga oleh agen-agen US Secret Service. Terkesan boros, berlebihan, dan tidak menghargai yurisdiksi dan kedaulatan negara yang disinggahi memang. Namun, fakta itulah yang mengemuka di tiap negara yang pernah dikunjungi Presiden AS.

Terlepas dari segala kontroversinya, dari segi kekuatan dan teknologi militer, hanya sedikit yang bisa menyamai AS. Ditambah kebijakan luar negeri AS yang menggelar perang di berbagai negara, sudah jelas Presiden AS selalu menjadi sasaran tembak dari berbagai pihak yang tidak menyenangi kebijakan AS. Bila Presiden AS di dalam negeri saja menerima sampai 300 ancaman setiap harinya, sudah jelas jumlah ancamannya akan lebih besar bila ia mengadakan perjalanan ke luar negeri.

Maka, setiap kunjungan Air Force One adalah pertunjukan kekuatan AS secara halus. Pesawat ini dirancang tidak seperti pesawat kepresidenan lain. Sistem komunikasinya mampu menjangkau seluruh titik di Bumi, sistem proteksinya mampu melindungi dari segala ancaman, dan kehadiran pesawat berkelir biru ini mampu menggentarkan hati siapa pun yang melihatnya. Semua awaknya pilihan dari yang terbaik, terdedikasi dalam melayani presiden dan tak jarang pula tercipta hubungan erat antara presiden dan para awak Air Force One, serta orang-orang yang pernah terbang bersamanya.

Tidak sekadar pertunjukan kekuatan, pada akhirnya event yang terjadi pada 11 September 2001 menjadi justifikasi kehadiran Air Force One. Saat itu "Taj Mahal Terbang" ini menjadi pusat komando bagi Presiden AS, mengamankannya dari kekacauan keamanan dan komunikasi yang terjadi di bawah. Air Force One melindungi presiden di dalam perutnya, memberinya kesempatan untuk mengambil keputusan terbaik, dan menguatkan sebuah negara yang berada dalam kebingungan dan kekacauan.

Saat-saat terberat tersebut menjadi pembuktian bahwa pemilihan pesawat VC-25 dengan basis Boeing 747-200 bukanlah berlebihan. Dengan jarak tempuh sepertiga keliling Bumi dan durasi terbang cukup lama, VC-25 menjadi platform ideal sebagai Air Force One, sekaligus memberikan tantangan, adakah pesawat lain yang bisa menggantikan fungsinya kelak?


Editor : A. Wisnubrata
Sumber: