Kamis, 21 Agustus 2014

News /

SOAL IRAK

Rice Akui Ada Kesalahan George Bush

Senin, 18 Oktober 2010 | 03:34 WIB

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice (55) dalam wawancara dengan CNN yang akan dirilis pada Senin (18/10) ini mengungkapkan, tindakan menumbangkan rezim Saddam Hussein di Irak adalah sebuah keputusan yang benar, tetapi AS melakukan sejumlah kesalahan dalam kebijakan setelah tumbangnya Saddam Hussein. Rice mengakui kesalahan atas kebijakan AS pada era pemerintahan Presiden George W Bush yang sangat memberi prioritas pada kota Baghdad dan mengabaikan wilayah-wilayah lain di Irak.

Menurut mantan Menlu AS itu, kesalahan itu dilakukan akibat pemerintahan Presiden George W Bush saat itu tidak memahami dan kurang jeli dalam membaca sejauh mana akan terjadi ambruknya struktur sosial di Irak pada masa peralihan dari era diktator ke era demokrasi di negara itu.

Setelah berakhirnya era diktator di Irak, negeri itu malah dihinggapi era sektarian dan fanatisme mazhab yang memecah belah tatanan sosial sehingga negeri itu tidak mengenal stabilitas politik dan keamanan sejak invasi AS tahun 2003 sampai saat ini.

Rice adalah salah seorang arsitek utama kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden George W Bush (2001-2009). Pada periode pertama pemerintahan Presiden Bush (2001-2005), Rice menjabat penasihat keamanan nasional AS. Pada periode kedua (2005-2009), Rice menjabat menteri luar negeri.

Setelah berakhirnya periode kedua pemerintahan Presiden Bush, Rice kembali ke profesi semula sebagai profesor pada Universitas Stanford di California. Rice kini sibuk mempromosikan buku memorialnya yang menceritakan tentang perjalanan hidupnya sejak kecil hingga menjadi arsitek kebijakan luar negeri AS.

Rice Jumat lalu berkunjung ke Gedung Putih untuk menemui Presiden Barack Obama. Ia menghadiahkan sebuah buku memorialnya itu kepada Presiden Obama. Di tengah promosi buku memorialnya itu, Rice buka suara tentang berbagai kebijakan pada era Presiden Bush.

Pada hari Rabu pekan lalu, Rice dalam sebuah acara promosi buku memorialnya juga mengakui, pemerintahan Presiden George W Bush telah melakukan beberapa kesalahan. Meski demikian, Rice menyatakan bangga dengan prestasi yang dicapai pemerintahan Presiden Bush itu.

Ia mengungkapkan, kesalahan pemerintahan Presiden Bush saat itu adalah hari-hari setelah serangan teroris 11 September 2001, dianggap seperti 11 September itu, yakni terus dihantui akan terjadi serangan baru setiap saat.

”Reaksi berlebihan dari pemerintahan Presiden Bush saat itu adalah akibat rasa entakan luar biasa dan perasaan emosi harus membasmi teroris yang mengancam AS,” ujar Rice.

Tentang perang di Afganistan dan Irak, Rice mengatakan sesungguhnya tidak terkejut jika perang berlangsung lebih panjang daripada yang diharapkan. Ia menambahkan, Afganistan memang sulit.

”Saya mengakui bahwa ada banyak kesulitan di Afganistan. Namun, kaum wanita di sana sekarang tidak lagi mendapat hukuman mati di lapangan sepak bola. Kaum wanita di Afganistan juga bisa pergi ke sekolah-sekolah. Tanzim Al Qaeda tidak lagi memiliki basis geopolitik,” kata Rice.

Mantan Menlu AS itu juga mengimbau agar Presiden Hamid Karzai waspada dalam melakukan perundingan dengan Taliban. Bersamaan dengan serangkaian pernyataan Rice tentang Irak dan Afganistan beberapa hari terakhir ini, situs WikiLeaks dalam waktu dekat akan merilis 400.000 dokumen rahasia tentang perang Irak.

Pada bulan Juli lalu, situs WikiLeaks membuat kejutan dengan merilis lebih dari 70.000 dokumen rahasia tentang perang Afganistan. Dalam dokumen rahasia itu, diungkap tentang jatuhnya korban dari warga sipil dalam jumlah besar di Afganistan serta main mata antara Taliban dan dinas intelijen militer Pakistan.

Pemerintah AS juga dikejutkan lagi oleh hasil evaluasi tahunan Dewan Keamanan Nasional AS seperti dirilis harian Wall Street Journal edisi 5 Oktober lalu bahwa militer Pakistan menghindar memerangi Taliban dan Tanzim Al Qaeda di Waziristan Utara. Militer Pakistan bahkan meminta Taliban agar terus berjuang memerangi AS. (mth)

 


Editor :