AFP PHOTO/JAY DIRECTO
Petugas medis memindahkan penumpang yang masih hidup maupun yang telah tewas usai drama pembajakan bersenjata bus Hong Thai Travel di Manila, Filipina, Senin (23/8/2010) malam.
KOMPAS.com — Kasus penyanderaan turis Hongkong di Filipina sebulan lalu memunculkan hasil penyelidikan sementara yang terbaru. Salah satunya adalah dugaan kalau polisi menembak mati beberapa sandera selama pembebasan berlangsung. Pada kejadian itu, sebagaimana warta AP dan AFP pada Kamis (9/9/2010), delapan wisatawan tewas tertembak selama upaya pembebasan mereka yang berjalan sangat kacau. Tak cuma itu, pelaku penyanderaan juga tewas tertembak.
Ketua tim penyelidikan mengatakan, ada kemungkinan kuat bahwa beberapa sandera mungkin tewas terbunuh oleh tembakan polisi. Kesimpulan akhir dari penyelidikan resmi diharapkan akan keluar dalam beberapa hari lagi. Sementara itu, China menuntut laporan lengkap dan adil atas operasi penyelamatan ini.
Sebagaimana warta sebelumnya, mantan polisi Rolando Mendoza (55 tahun) membajak sebuah bus pada 23 Agustus lalu dengan menggunakan senjata laras panjang. Dia menuntut agar kembali dipekerjakan setelah dipecat dari kepolisian pada tahun 2009 karena memeras dan mengancam.
Tidak cocok
Total ada 20 wisatawan Hongkong dan dua pemandu wisata menjadi sandera, bersama tiga warga Filipina, yaitu sopir, seorang pemandu wisata, dan seorang fotografer.
Sembilan orang dibebaskan pada awal perundingan antara polisi dan penyandera, tetapi 15 orang lain tetap berada di dalam bus selama beberapa jam ketika drama penyanderaan ini disiarkan di televisi secara langsung ke seluruh dunia.
Polisi mengatakan, delapan turis kehilangan nyawa mereka karena ditembak oleh penyandera selama operasi penyelamatan. Namun, Menteri Kehakiman Leila de Lima mengatakan bahwa "ada kemungkinan besar terjadi penembakan oleh polisi".
Di samping itu, de Lima juga mengatakan, sejumlah laporan forensik terhadap beberapa korban tidak cocok dengan keterangan sopir yang mengatakan kepada penyelidik bahwa penyandera itu menembak beberapa turis dari jarak dekat.
Tim penyelidik sudah mendengar keterangan para saksi selama berjam-jam, memeriksa bukti-bukti forensik, dan bahkan rekonstruksi serangan polisi terhadap penyandera dalam upaya mereka mengungkap fakta-fakta dari operasi ini.
Para korban dan para ahli mengecam kepolisian Manila yang mereka anggap tidak tegas dan sangat lamban dalam menangani krisis ini.


