wordpress.com
Ilustrasi
WASHINGTON, KOMPAS.com - AS Rabu menyambut sanksi baru yang dikenakan Korea Selatan terhadap Iran di saat meningkatnya tekanan terhadap Teheran, untuk kembali ke meja perundingan mengatasi keprihatinan tentang tujuan nuklirnya.
"Aksi-aksi ini memperkuat tumbuhnya keputusan internasional untuk mencegah penyebaran dan pengembangan senjata nuklir Iran, guna menekan Iran untuk kembali pada perundingan serius mengenai program nuklirnya dan memenuhi tanggung jawab internasional," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan Menteri Keuangan Timothy Geithner dalam pernyataan bersama.
"Kami menyambut keputusan khusus Republik Korea untuk memberlakukan sanksi-sanksi pada sejumlah sektor ekonomi Iran, yang telah dieksploitasi untuk tujuan-tujuan berkaitan dengan proliferasi oleh perusahaan dan individu-individu yang berkaitan ...dan membentuk sistem otorisasi sebelumnya bagi transaksi keuangan dengan Iran."
Seoul sebelumnya menyepakati untuk menghukum sebuah bank penting Iran dan menempatkan semua transaksi keuangan dengan Teheran di bawah pengawasan ketat pemerintah.
Clinton dan Geithner sempat mengatakan akan menunjukkan kepada Iran konsekuensi-konsekuensi kegagalannya memenuhi kewajiban-kewajiban internasional.
"Mereka mengirimkan sinyal yang sangat kuat kepada Iran bahwa tak hanya itu yang kami terus lakukan terhadap kekhawatiran mengenai tujuan aktivitas nuklirnya, tapi kami melakukan tindakan agresif untuk lebih lanjut mengucilkan Iran," kata juru bicara Deplu AS, Philip Crowley.
Juru bicara kementerian luar negeri Korea Selatan, Kim Young-Sun mengatakan, pemerintah akan mengenakan "hukuman keras" mengenai Bank Mellat cabang Seoul, yang dituduh memfasilitasi ratusan juta dolar dalam transaksi untuk nuklir, rudal dan perusahaan pertahanan Iran.
Kim tidak menjelaskan lebih lanjut, namun kantor berita Yonhap mengatakan, bank itu tampaknya akan menghadapi penskorsan selama dua bulan.
Dalam putaran keempat sanksi Dewan Keamanan PBB Juni, Korea Selatan bergabung dengan Amerika Serikat, Australia, Kanada dan Jepang melakukan tindakan sepihak untuk memeriksa ambisi nuklir Iran.
"Republik Korea dengan tegas melakukan pemeriksaan-pemeriksaan, melarang ekspor barang strategis, mengawasi barang-arang dan melarang investasi atau penjualan barang-barang, jasa dan teknologi kepada sektor energi Iran, dan juga akan membatasi lebih lanjut kemampuan Iran untuk melakukan kegiatan yang terlarang," kata Hillary dan Geithner.
Sekretaris kabinet mencatat bahwa AS telah membuat "langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya" untuk pendekatan kepada republik Islam tersebut.
Kedua negara tidak memiliki hubungan setelah Revolusi Islam 1979 yang menumbangkan Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang didukung AS.
"Penambahan tekanan terhadap para pemimpin Iran adalah penting untuk memperjelas pilihan yang dihadapi Iran, dan untuk mencapai tujuan resolusi diplomatik serta mencapai pada mencapai goal Resolusi Diplomatik." katanya menambahkan.
"AS mendorong negara-negara lain untuk bergabung dengan pertemuan, dan mengambil langkah-langkah perlu untuk menjamin pelaksanaan menyeluruh UNSCR 1929."


