KOMPAS.com - Musim panas berkepanjangan tahun ini yang menimpa Rusia memang membawa malapetaka. Kegagalan panen tanaman padi-padian di negeri itu menjadi pemicu naiknya harga bahan pangan dunia. Apa pasal? Presiden Vladimir Putin, pada Kamis (2/9/2010) sudah meneken kebijakan memperpanjang larangan ekspor padi-padian asal Rusia.
Problem menyeruak lantaran Rusia yang merupakan salah satu produsen padi-padian terbesar dunia seperti wheat, barley, dan rye. Sudah begitu, Putin tidak mengatakan kapan tepatnya larangan ekspor padi-padian Rusia, yang semula hanya berlaku antara tanggal 15 Agustus sampai 31 Desember, akan dicabut. "Larangan tidak akan dicabut sebelum panen tahun depan dituai," katanya sebagaimana warta media massa seperti AP dan AFP.
Karuan saja, kebijakan Putin membuat stok pangan dunia jadi kurang memadai. Ujung-ujungnya, harga pangan pun membumbung tinggi. Inilah ancamannya.
Gara-gara itulah Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB bergerak cepat. Badan ini menggelar sidang khusus yang diagendakan pada Jumat (24/9/2010). "Lokasi persidangan mungkin di Roma," kata FAO.
FAO benar merasa khawatir. Menurut lembaga ini, dalam beberapa minggu belakangan sudah terjadi kenaikan mendadak harga gandum di pasar global. "Muncul kekhawatiran terjadinya kekurangan gandum," imbuh FAO.
Masih menurut FAO, tujuan penyelenggaraan pertemuan adalah agar negara pengekspor maupun pengimpor terlibat pembicaraan konstruktif mengenai reaksi yang layak terhadap situasi pasar saat ini.
Tak cuma Rusia, gelombang panas menghancurkan panen di banyak wilayah negara. Ini yang membuat harga pangan naik. Hasil panen tahun ini bisa hanya 60 juta ton. Kendati demikian, Rusia memerlukan hampir 80 juta ton untuk konsumsi domestik saja, kata para pengamat.
Produsen besar padi-padian yang lain juga melaporkan kekurangan, sehingga harga gandum naik lebih dari 50 persen sejak awal Juli.


