WASHINGTON, KOMPAS.com - Presiden Afganistan, Hamid Karzai, Minggu, mempertahankan keputusannya untuk melarang kontraktor-kontraktor keamanan swasta asing. Ia menuduh mereka merampok dan mencuri, memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok penjahat dan mungkin memberikan dana kepada gerilyawan.
Karzai mengeluarkan perintah, Sabtu, untuk segera membubarkan perusahan-perusahaan keamanan, yang diduga memiliki sekitar 40.000 karyawan dan digunakan untuk menjaga kedutaan-kedutaan dan kantor-kantor, menjaga pangkalan-pangkalan dan mengawal konvoi-konvoi. Mereka diharapkan dapat merampungkan pembubaran dalam waktu empat bulan, yang menimbulkan tantangan besar bagi pasukan Amerika Serikat dan NATO pada saat aksi kekerasan yang dilakukan gerilyawan meningkat.
Tetapi dalam satu wawancara dengan stasiun Televisi melalui program "This Week", Karzai menuduh miliaran dolar yang diberikan pada perusahaan-perusahaan keamanan swasta telah dialihkan untuk kepentingan pelatihan dan peralatan pasukan keamanan Afganistan. "Kami akan membuat satu keputusan bagi perusahaan-perusahaan keamanan yang memberikan perlindungan pada kedutaan-kedutaan dan yang mengawal para diplomat atau wakil-wakil dari pemerintah-pemerintah asing di Afganistan dari tempat ke tempat. Tetapi kami akan memutuskan tidak akan mengizinkan mereka memberikan perlidungan untuk jalur pasokan," katanya. "Ini adalah tugas pemerintah dan polisi Afganistan."
Ia mengatakan perusahaan-perusahaan keamanan swasta memiliki struktur keamanan yang paralel dengan pemerintah Afghanistan. "Saya mengimbau kepada pembayar pajak AS tidak mengizinkan uang yang mereka peroleh dengan kerja keras jatuh ke tangan kelompok-kelompok yang banyak menyusahkan rakyat Afganistan, tetapi benar-benar, Tuhan tahu, ada kontak dengan kelompok-kelompok seperti mafia dan barangkali juga memberikan dana kepada kelompok garis keras dan pemberotak dan teror melalui perusahaan-perusahaan ini."
Perusahaan-perusahaan keamanan swasta itu, katanya merampok dan mencuri hak rakyat Afghanistan, menimbulan banyak gangguan terhadap para warga sipil. "Kami tidak tahu mereka adalah perusahaan-perusahaan keamanan di siang hari dan kemudian beberapa di antara mereka menjadi anggota kelompok teroris pada malam hari," kataya.
