whudat.com
ilustrasi
Korban banjir Pakistan, Achar, mengungsi ke tempat yang dikatakan warga desa sebagai tempat kerajaan kuno. Banjir yang mulai merendam tiga pekan sebelumnya setelah hujan lebat membuat permukaan air sungai Indus naik dan memaksa lebih dari 4 juta orang meninggalkan rumah mereka.
Kebanyakan warga yang mengungsi kini tinggal dalam kondisi terlunta-lunta di pinggir jalan. Banyak di antara mereka tidur di tempat terbuka dan hanya memiliki sedikit makanan serta tak punya air bersih.
Achar, pria tua yang kurus kering, berlindung bersama keluarganya di gundukan tanah di kota kuno Amri, di dataran rendah yang kebanjiran di provinsi Sindh, Pakistan selatan.
Ia tampaknya cukup puas dengan pulaunya. "Sekarang tak ada tempat teduh di jalan dan di sini aman, tanah ini tinggi," kata Achar --yang hanya memiliki satu nama, dan kini tinggal bersama keluarganya, yang terdiri atas 16 anggota.
Rambutnya, yang diberi pewarna oranye dan coklat, muncul dari bawah topi putihnya. Jenggotnya memiliki warga yang sama.
Amri, di sebelah barat Indus, berasal dari abad 3.000 SM. Lembah sungai Indus diduga telah menjadi pusat peradaban di Asia Selatan dan Amri adalah salah satu permukiman paling awal yang diketahui, lebih tua dari Moen Jo Daro, kota utama peradaban Indus dan salah satu tapak arkeologi paling penting di Pakistan.
Moen Jo Daro, yang juga berada di Sindh, tak kebanjiran.
Tanah berpasir di bukit kecil Amri dipenuhi dengan pecahan barang gerabah dengan warga merah bata. Potongan yang lebih besar muncul dari lereng terjal yang terkikis.
Setiap kali hujan lebat mengguyur, makin banyak potongan barang tembikar dihanyutkan air dari bukit, tempat para raja pernah tinggal, kata warga desa.
"Dulu itu adalah kota dan tembikar ini biasa ada di sana," kata Achar sebagaimana dikutip wartawan Reuters, Robert Birsel. "Kadang-kala kami menemukan potongan yang berlapis kaca atau gambar. Kelihatannya sudah tua sekali!"
Ia mengatakan ia tak pernah menemukan apa pun yang berharga.
Di sisi lain di jalan yang berdekatan, yang tidak terputus oleh banjir, satu museum kecil yang dikeliling air dipenuhi artifak dari tempat itu.
Banjir besar tersebut masih terjadi di seluruh hamparan semi-gurun dan lahan pertanian datar di Sindh. Banjir baru merendam Amri lima hari sebelumnya.
Warga desa diperingatkan mengenai air bah yang mendatangi tempat tinggal mereka dan Achar mengatakan ia bisa mengemasi barang-barangnya dan pindah ke puncak bukit, tempat ia membersihkan semak-belukar serta memasang potongan besar kanvas berwarna putih.
Delapan tempat tidur tambang, teko, panci dan buntalan pakaian ditumpuk di bawah tenda, bersama dengan beberapa perempuan dan anak kecil. Mereka berlindung dari sengatan sinar Matahari pada siang hari.
Pekerja bantuan pemerintah telah tiba di jalan pada hari sebelumnya, di seberang air sejauh 300 meter, dan Achar dapat menggunakan perahu untuk mengumpulkan pasokan berupa beras, tepung, kacang-kacangan, gula dan teh. Untuk air minum, ia menujuk ke banjir. "Kami terbiasa dengan itu," katanya.
Dari tendanya yang berada di tempat tinggi, Achar menunjuk ke rumahnya, yang bertembok lumpur dan kini ambruk. Atap rumbia rumah warga desa dan bangunan pertanian roboh diterjang air.
Di bagian lain, melewati museum yang kebanjiran, hanya bagian atas pohon kecil dapat terlihat di permukaan banjir sampai lereng gunung di kejauhan.
Selain tumpukan tembikar, tak ada jejak bahwa orang pernah tinggal di Amri, yang diduga telah musnah akibat kebakaran besar.
Ribuan tahun kemudian, ada banjir besar yang mengancam tanah kuno Pakistan dan rakyatnya.
