KABUL, KOMPAS.com — Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO mengakui bahwa lima warga sipil Afganistan tewas akibat serangan udara mereka. NATO berdalih, Minggu (15/8/2010), bahwa serangan udara pada hari Kamis itu untuk membantu menangkis serangan Taliban di bagian selatan negeri itu.
Serangan dilancarkan di distrik Lashkar Garm, Provinsi Helmand, saat anggota pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO terlibat baku tembak dengan para gerilyawan dan menyeru bantuan pesawat udara untuk memberikan dukungan.
ISAF menyatakan, "Hari itu, empat warga sipil yang terluka dan tiga warga sipil Afganistan yang tewas dibawa ke pos penjagaan terdekat. Dua warga yang luka-luka itu tewas, sedangkan dua orang luka-luka yang lain dievakuasi ke fasilitas kesehatan ISAF."
Dalam penyelidikan yang tengah berlangsung, "Ada bukti bahwa warga sipil itu berada di kawasan yang menjadi sasaran operasi pasukan koalisi."
"Kami menyesalkan ada korban yang meninggal. Tujuan utama kami adalah melindungi rakyat Afganistan dan dalam hal ini kami boleh jadi gagal," demikian pernyataan itu.
Kepala pimpinan pasukan internasional AS di Afganistan tahun lalu, Jenderal Stanley McChrystal, memberlakukan pembatasan penggunaan serangan udara. Pembatasan ini membuat jumlah pembunuhan tidak sengaja menurun dalam paruh tahun pertama.
Pimpinan baru pasukan internasional, Jenderal David Petraeus, juga mengeluarkan perintah pada awal bulan ini untuk menghindari korban dari warga sipil.
Namun, sebuah laporan PBB yang dikeluarkan pada 10 Agustus lalu menunjukkan bahwa jumlah korban sipil pada perang tersebut telah meningkat sepertiga dalam enam bulan pertama tahun ini dengan jumlah mencapai 1.271 jiwa. Adapun para gerilyawan disebutkan menewaskan warga sipil dengan jumlah tujuh kali lebih banyak dibanding pasukan pimpinan NATO.
