NEW YORK, KOMPAS.com — Mesir mengatakan, penetapan Timur Tengah sebagai kawasan bebas nuklir dalam konferensi peninjauan kembali Perjanjian Non Proliferasi Nuklir (NPT) di New York bulan depan merupakan kunci dalam menyelesaikan sengketa nuklir Iran.
"Keberhasilan dalam menangani Iran akan tergantung pada keberhasilan kita mewujudkan satu zona bebas nuklir di Timur Tengah," kata Duta Besar Mesir untuk PBB, Maged Abdel Aziz, dalam satu keterangan pers di New York, Selasa (27/4). "Kami menolak keberadaan senjata-senjata nuklir di Timur Tengah apakah di Iran maupun di Israel," tambahnya.
Mesir, yang akan mengajukan satu kertas kerja pada konferensi peninjauan kembali NPT, yang akan dibuka pekan depan, mendesak dilaksanakannya resolusi tahun 1995 yang menyerukan Timur Tengah dijadikan zona bebas nuklir. Kertas kerja itu menyerukan para anggota NPT untuk memperbarui keputusan mereka, secara sendiri dan bersama, semua tindakan yang diperlukan yang bertujuan pelaksanaan segera resolusi itu, termasuk keikutsertaan Israel secepat mungkin dalam perjanjian itu sebagai negara yang tidak memiliki senjata.
Israel juga harus menempatkan semua fasilitas nuklirnya berada dalam cakupan pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional, tambahnya. Duta Besar Mesir itu mengatakan, walaupun tidak ada hubungan antara Iran dan masalah-masalah nuklir Iran, kedua hal itu harus diselesaikan secara serentak. Ia mengharapkan Israel, yang diduga kuat memiliki ratusan bom nuklir, akan ikut serta dalam konferensi NPT yang berlangsung pada 3-28 Mei. Abdel Aziz mengatakan, pembentukan satu zona bebas nuklir Timur Tengah akan merupakan satu "langkah baik" untuk membujuk Iran menaati kewajiban-kewajibannya sesuai dengan NPT yang telah ditandatanganinya.
Israel tidak pernah secara resmi mengaku memiliki senjata-senjata nuklir, mempertahankan satu kebijakan menduanya sejak meresmikan reaktor nuklir Dimona tahun 1965. Seperti hal negara-negara yang memiliki senjata nuklir, India, Pakistan, dan Korea Utara, negara Yahudi itu tidak menandatangani NPT untuk menghindari pemeriksaan-pemeriksaan internasional.
Sementara itu, negara-negara Barat menuduh Iran menggunakan program pengayaan uraniumnya sebagai satu samaran utuk membuat senjata-senjata nuklir. Teheran menegaskan, seluruh program nuklirnya untuk tujuan damai bagi peningkatan kapasitas listrik.

