Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 01:12 WIB
Pertemuan Donor untuk Darfur Hasilkan 841 Juta Dollar
| aegi | Senin, 22 Maret 2010 | 10:13 WIB
|
Share:

KAIRO, KOMPAS.com - Pertemuan para donor untuk Darfur di Kairo, Minggu, hanya mendapatkan 841 juta dollar AS atau kurang dari separuh angka 2 miliar dollar yang ditargetkan. Sejumlah negara menahan diri untuk menjanjikan sumbangan bagi pembangunan wilayah barat Sudan itu karena mengkhawairkan masalah keamanan.

Meski demikian, Sudan mengatakan tidak kecewa dengan hasil pertemuan satu hari itu. Dana itu akan digunakan antara lain untuk membangun pabrik semen, jalan, dan desa bagi orang-orang terlantar di Darfur yang bergolak itu. "Hal yang lebih penting adalah masyarakat internasional berjanji untuk membantu pemerintah Sudan dalam upaya untuk mencapai perdamaian di Darfur," kata Abdel Malik an-Naeem, penasehat media delegasi Sudan.

Negara seperti AS, Kanada, Norwegia, dan Inggris tidak menjanjikan uang pada pertemuan itu. Mereka mengatakan wilayah tersebut tidak cukup aman untuk kerja yang diusulkan itu. Qatar, yang dalam beberapa pekan belakangan menyaksikan penandatanganan dua perjanjian gencatan senjata antara kelompok pemberontak dan Kharthoum, menjanjikan 200 juta dolar AS dalam tindakan lebih lanjut untuk menyesuaikan dirinya dengan peran pentingnya dalam memecahkan krisis Darfur.

Negara-negara Arab Teluk telah menjanjikan 1 miliar dollar AS untuk Darfur. Bank Pembangunan Islam OKI (Organisasi Konferensi Islam), yang mendukung pertemuan itu, menyatakan pihaknya akan memberikan 355 juta dollar AS. Turki akan memberikan 60-75 juta dolar AS dari sekarang hingga 2015 untuk proyek air, pendidikan dan pertanian, dan Uni Eropa secara kolektif menjanjikan 95 juta dollar AS.

Krisis
Menteri Luar Negeri Mesir, Ahmed Aboul Gheit, pada pembukaan pertemuan itu mengatakan, investasi untuk prasarana, kesehatan, pendidikan dan pertanian penting sekali untuk mengakhiri konflik di Darfur dan memelihara perdamaian menyusul perjanjian gencatan senjata belum lama ini. PBB memperkirakan, sebanyak 300.000 orang telah tewas sejak kelompok pemberontak mengangkat senjata melawan pasukan pemerintah Sudan pada tahun 2003, dan menuduh negara itu telah mengabaikan wilayah tersebut. Khartoum menyebutkan korban tewas hanya 10.000 orang.

Menurut Aboul Gheit, sejak awal krisis di Darfur, masalah dasarnya adalah masalah pembangunan, yang memuat dimensi politik, suku dan sosial. "Ini membuat kita pasti, inti penyelesaian bagi krisis Darfur harus memusatkan pada penambahan kecepatan pembangunan, peningkatan standar kehidupan bagi setiap warga Darfur," katanya.

Konferensi Kairo didukung oleh 57 anggota OKI. Pada konferensi itu hadir juga wakil dari China, AS, Rusia, Inggris, Perancis dan sejumlah negara lain.

Sumber :
ANT