KATHMANDU, KOMPAS.com - Ribuan orang berkumpul di Kathmandu untuk memberikan penghormatan terakhir mereka kepada Girija Prasad Koirala, mantan pemimpin Nepal yang membantu penghentian perang saudara sepuluh tahun di negara itu.
Mereka yang berkabung membawa karangan bunga antri di sekitar stadion nasional, tempat jenazah Koirala disemayamkan dan menunggu selama berjam-jam dalam cuaca yang panas untuk memberikan penghormatan.
"Ia adalah seorang negarawan sejati yang memimpin Nepal melalui masa yang paling sulit," kata bankir Sadikshya Poudel saat antre menunggu di luar stadion itu.
"Ia adalah seorang tokoh bapak dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ia meninggalkan kita," katanya.
Koirala meninggal Sabtu dalam usia 85 tahun, setelah menderita sakit. Ia memimpin negara Himalaya itu melalui beberapa pergolakan-pergolakan paling besar, termasuk pembunuhan 10 anggota keluarga raja.
Warisan terakhirnya adalah keputusan tahun 2006 untuk melakukan perundingan terbuka dengan pihak pemberontak Maois, yang melancarkan pemberontakan berdarah terhadap negara itu.
"Keputusan yang berakhir dengan satu perjanjian perdamaian pada akhir tahun itu dan kemudian mengantarkan bekas pemberontak itu berkuasa," katanya.
Koirala menjadi perdana menteri terpilih pertama tahun 1991 setelah protes-protes pro demokrasi dan dianggap sebagai pelindung proses perdamaian sampai ia meninggal.
Pemimpin Maois Pushpa Kamal Dahal, yang dikenal dengan nama perjuangannya Prapchanda mengatakan, kematiannya adalah satu kehilangan yang tidak dapat diganti pada proses perdamaian, yang goyah sejak jatuhnya pimpinan Maois tahun 2009.
"Membawa proses perdamaian dan penyusunan konstitusi pada satu hasil yang logis dan membawa negara itu pada kesejahteraan merupakan satu penghargaan yang tepat pada Koirala," kata Pranchanda dalam sebuah pernyataan yang dikirim dalam bahasa Nepal.
Para anggota parlemen di Nepal kini menyusun satu konstitusi baru, yang akan membentuk masa depan republik paling muda dunia itu setelah penghapusan monarki Hindu pada tahun 2008.
Tetapi hanya dengan dua bulan sampai konstitusi sementara berakhir, ketidaksepakatan tetap ada pada masalah-masalah fundamentil.
Masalah bagaimana mengintegrasi mantan pemberontak Maois ke dalam tentara nasional - satu prinsip penting dalam perjanjian perdamaian - juga tetap belum diselesaikan di tengah-tengah perbedaan kuat antara para pemimpin militer dan mantan pemberontak.
Ketua misi PBB di Nepal, Karin Landgren mengatakan, negara itu kehilangan tokoh penting dalam sejarah politiknya.
Jenazah Koirala Minggu malam akan dibawa ke Kuil Hindu Pashupatinath di Kathmandu, tempat ia akan dikremasi dalam satu upacara yang diperkirakan akan dihadiri ratusan ribu orang.


