KAIRO, KOMPAS.com - Kairo, Minggu (21/3/2010) menjadi penyelenggara konferensi donor internasional yang bertujuan menghimpun dua miliar dolar untuk upaya pembangunan kembali Darfur, wilayah Sudan yang porak poranda akibat perang.
Konferensi sehari itu dihadiri 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OIC), dan dipimpin secara bersama oleh Mesir dan Turki.
Lebih dari 20 negara bukan anggota OIC dan 50 organisasi kemanusiaan internasional juga diundang untuk ikut ambil bagian dalam konferensi, yang bertujuan mengirim pesan kepada masyarakat internasional bahwa pembangunan adalah faktor penting dalam mencapai perdamaian dan stabilitas di Darfur.
Penyelenggara konferensi tingkat menteri ini berencana mengumpulkan dua miliar dolar untuk membiayai berbagai rekonstruksi dan pembangunan proyek-proyek pertanian, pasokan air, kesehatan dan pendidikan di Darfur.
Peserta Forum Kairo juga diharapkan memberikan sumbangan kepada semua gerakan di Darfur, dan ikut bergabung dalam perundingan-perundingan perdamaian yang diselenggarakan di ibu kota Qatar, Doha.
Perang sipil yang pecah di wilayah barat Darfur pada awal 2003 diklaim telah menewaskan lebih dari 300.000 orang, menurut perkiraan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Perang juga memaksa sekitar 2,7 juta orang meninggalkan rumah mereka. Pemerintah Sudan sendiri menyatakan, jumlah yang tewas akibat perang saudara itu sekitar 10.000.
Beberapa kelompok pemberontak Sudan baru-baru ini telah menandatangani kesepakatan perdamaian dengan pemerintah di Khartoum, namun kelompok pemberontak penting, Angkatan Bersenjata Pembebasan Sudan (SLA), sejauh ini menolak perundingan-perundingan dengan Khartoum.
Kelompok tersebut terlibat dalam bentrokan sengit dengan militer Sudan pada awal bulan ini. Rusia telah memelihara kontingen penjagaan perdamaian di negara yang rusak karena perang itu sejak April 2006, sebagai bagian dari Misi PBB di Sudan (UNMIS).
Kontingen itu terdiri 120 petugas dan empat helikopter Mi-8, yang diperlengkapi oleh PBB dengan standar internasional.
Kelompok helikopter memberikan dukungan layanan transportasi kepada para pengamat militer PBB di Sudan, dan juga melakukan operasi-operasi pertolongan.


