Obama telah berbicara dengan lebih dari tiga lusin anggota parlemen, baik melalui telepon maupun tatap muka, sejak Senin untuk memburu 216 suara yang diperlukan agar rancangan undang-undang (RUU) layanan kesehatan lolos. Obama juga terpaksa menunda lawatan ke Indonesia dan Australia demi menunggu pemungutan suara.
Ketua DPR Nancy Pelosi dan anggota parlemen dari Demokrat menyatakan yakin RUU itu akan lolos. Namun, penundaan kunjungan Obama ke Asia Pasifik yang sedianya dimulai pada Minggu seakan-akan menjadi pengakuan bahwa hasil pemungutan suara belum pasti.
”Kami merasa sangat yakin di mana kami sekarang. Kami akan mengukir sejarah dan akan membuat kemajuan dengan meloloskan RUU ini,” kata Pelosi.
RUU layanan kesehatan itu dimaksudkan untuk memperluas cakupan asuransi bagi 32 juta warga AS yang tidak memilikinya. Mulai tahun 2014, 95 persen warga AS diharuskan memiliki asuransi. Jika tidak, mereka akan menghadapi hukuman.
Jutaan warga dengan pendapatan hingga 88.000 dollar AS per tahun akan menerima bantuan pemerintah untuk mengurangi pengeluaran premi asuransi. Perusahaan besar akan didenda jika tidak memberikan asuransi berkualitas bagi pekerjanya.
Kemarin Obama mendapat angin saat Kantor Anggaran Kongres memperkirakan RUU reformasi layanan kesehatan akan mengurangi defisit anggaran sebesar 138 miliar dollar AS selama 10 tahun pertama dan berkurang hingga 1,2 triliun dollar AS pada dekade berikutnya.
”Ini adalah kebijakan reformasi yang akan membawa akuntabilitas pada industri asuransi dan keamanan perekonomian lebih besar bagi seluruh rakyat AS,” kata Obama.
Saat Demokrat menggebu-gebu dengan RUU itu, Republik memperkuat barisan untuk mematahkannya. Mereka menganggap reformasi layanan kesehatan sebagai upaya tidak terjangkau yang akan memengaruhi seperenam perekonomian AS dan berujung malapetaka.
”RUU reformasi layanan kesehatan itu buruk bagi pasien, bagi perusahaan asuransi, bagi dokter, perawat, rumah sakit, dan pembayar pajak kita,” kata Senator John Barrasso dari Republik.
Agar RUU itu lolos, DPR harus mendukung RUU yang telah disetujui Senat tahun lalu. Kemudian kedua kamar Kongres akan meloloskan paket final yang disepakati dalam negosiasi dengan Gedung Putih. Senat akan menggunakan prosedur rekonsiliasi yang hanya memerlukan mayoritas tipis.

