Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 02:32 WIB
Tiga Warga Sipil Tewas di Tangan Polisi Yaman
Josephus Primus | primus | Jumat, 19 Maret 2010 | 04:06 WIB
|
Share:

SANAA, KOMPAS.com - Polisi Yaman membunuh seorang warga sipil dan mencederai tiga lain Kamis (18/3/2010) ketika mereka melepaskan tembakan ke arah pemrotes pada pawai separatis di kota wilayah selatan, Daleh, kata sejumlah aktivis.
      
Ribuan pemrotes berkumpul dalam demonstrasi untuk mendukung para tahanan, dengan meneriakkan slogan-slogan pro-kemerdekaan seperti "Pasukan Pendudukan Keluar" dan "Hidup Yaman Selatan Merdeka".
      
Polisi berusaha membubarkan aksi itu dan memburu pemrotes ke daerah pasar di kota tersebut, dan tembakan mereka menewaskan seorang pedagang dan mencederai tiga orang lain yang sedang melihat, kata aktivis dari Gerakan Selatan yang meminta tidak disebutkan namanya. Protes serupa diadakan di Al-Habilain, provinsi Lahej, Yaman bagian selatan, kata beberapa saksi mata.
      
Kamis pekan lalu, tiga aktivis tewas dan tiga lain cedera dalam bentrokan di Daleh dan beberapa kota lain di wilayah selatan.
      
Demonstrasi pro-kemerdekaan meningkat di wilayah selatan dalam beberapa bulan ini di tengah memburuknya ekonomi dan keluhan-keluhan mengenai diskriminasi oleh pemerintah Sanaa yang menguntungkan orang utara.
      
Yaman Selatan independen sejak 1967 sampai negara itu bersatu dengan Yaman Utara pada 1990. Upaya pemisahan diri lagi pada 1994 menyulut perang saudara singkat yag berakhir ketika wilayah selatan dikuasai oleh pasukan utara.
      
Kekerasan di Yaman bagian selatan meningkat dalam beberapa pekan ini ketika separatis yang memprotes pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh bentrok dengan pasukan keamanan yang menewaskan tiga polisi dan lima pemrotes.
      
Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.
     

 

Sumber :
ANT, AFP