Protes digelar berselang dua pekan setelah Mahkamah Agung Thailand memutuskan untuk menyita kekayaan Thaksin senilai 1,4 miliar dollar AS. Aksi tersebut merupakan babak terbaru dalam krisis politik yang telah membelit Thailand sejak Thaksin digulingkan dalam kudeta militer tahun 2006.
”Saya menawarkan dukungan moral saya bagi kelompok Kaus Merah yang berkorban dan keluar untuk mencatat sejarah,” kata Thaksin di situs jejaring sosial Twitter.
Thaksin tinggal di pengasingan pascakudeta, kebanyakan di Dubai. Dia juga menghindari hukuman penjara dalam kasus korupsi. Dari tempat pengasingan, Thaksin menghimpun dukungan melalui pesan singkat, rekaman video, dan Twitter.
Hasilnya, kemarin sekitar 30.000 orang telah berkumpul
Kelompok pendukung Thaksin, dikenal sebagai Kaus Merah karena baju yang mereka kenakan, menyebut aksi kali ini ”protes sejuta orang” dan menjanjikan protes tanpa kekerasan.
Pemerintah Thailand memperkirakan hanya 100.000 orang yang akan ikut protes tersebut. Kendati demikian, pemerintah telah menyiagakan 50.000 petugas keamanan dan memberlakukan Undang-Undang Keamanan Internal yang memungkinkan otoritas memberlakukan jam malam dan membatasi pergerakan orang.
Pusat-pusat usaha dan sekolah di Bangkok tutup. Sejumlah perusahaan memperbolehkan stafnya untuk bekerja dari rumah.
Aparat keamanan berdiri di pinggir-pinggir jalan dan gedung-gedung milik pemerintah menyusul peringatan kemungkinan sabotase. Barikade telah didirikan di semua titik akses utama menuju Bangkok dan aparat menghentikan kendaraan untuk diperiksa.
Terakhir kali kelompok Kaus Merah menggelar protes pada April 2009, dua orang tewas dan lebih dari 120 orang cedera akibat bentrok dengan aparat keamanan. ”Pemerintah dan militer akan melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menghentikan kami,” kata Weng Tojirakarn, salah satu pemimpin Kaus Merah.
Dia menambahkan, kelompoknya akan berupaya menghindari konfrontasi. ”Namun, Anda tak pernah tahu. Bentrokan bisa terjadi kapan saja dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Kelompok Kaus Merah terutama mewakili kaum miskin Thailand yang diuntungkan oleh kebijakan populis Thaksin. Mereka menyebut pemerintahan PM Abhisit Vejjajiva elitis, didukung militer, dan mengabaikan hak demokrasi mereka.
Mereka menuntut Abhisit turun dan menggelar pemilu dini, tetapi tuntutan itu ditolak. ”Saya hanya akan membubarkan parlemen demi kebaikan bersama, bukan demi kedamaian sementara. Pemerintahan saya akan tetap bekerja,” kata Abhisit.
Sebanyak 35 negara telah mengeluarkan peringatan bagi warga negaranya untuk tidak mengunjungi Thailand karena aksi protes tersebut. Bandar Udara Suvarnabhumi telah menyiapkan rencana darurat untuk mengantisipasi jika pemrotes kembali menduduki bandara.(ap/afp/reuters/fro)

