CANBERRA, KOMPAS.com - Ditimpali sembilan kali tepuk tangan dari semua yang hadir di Great Hall, Gedung Parlemen Australia, Rabu (10/3/2010) siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lewat pidatonya meyakinkan semua anggota parlemen dan pejabat Australia bahwa masa depan hubungan kedua negara memberikan harapan cerah. Namun, terwujudnya masa depan hubungan yang cerah itu sangat tergantung pada kemampuan kedua negara mengatasi empat tantangan yang ada. Keempat tantangan itu menurut Presiden adalah kedua belah pihak harus mampu mengubah pola pikir, bagaimana mengelola hubungan yang berkembang menjadi begitu kompleks, bagaimana membuat kemitraan lebih memberikan kesempatan dalam banyak hal, dan bagaimana menghadapi isu-isu baru. Presiden menegaskan, Australia bukan sekadar tetangga, bukan sekadar teman, melainkan mitra strategis. Presiden yakin apa yang sudah dilakukan dan akan dilakukan kedua negara akan dicontoh oleh negara-negara lain yang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Sebelumnya, PM Australia Kevin Rudd memuji perkembangan demokrasi di Indonesia, kebebasan pers, serta terciptanya suasana hidup yang penuh toleransi. Wartawan Dalam jumpa pers bersama Kevin Rudd, beberapa saat sebelumnya di plaza kompleks Sementara pidato Presiden Yudhoyono selama 30 menit di Parlemen Australia yang ditutup dengan tepuk tangan sambil berdiri oleh semua yang hadir dinilai Michael Henderson, dari Australia Indonesia Business Council, akan sangat membantu peningkatan hubungan kedua negara. Menurut Henderson, yang juga Ketua Western Australia, banyak hal yang disampaikan Presiden akan menjadi pegangan bagi kedua negara. ”Fantastik. Baru kali ini seorang pemimpin menyampaikan pidato tidak disela oleh komentar-komentar para anggota parlemen. Sungguh fantastik, semua anggota parlemen diam,” komentar Henderson. Pendapat hampir senada dikemukakan Cr Luke Smith dari Logan City Council, Australia. Ia menilai apa yang disampaikan Presiden memberikan harapan bagi terwujudnya hubungan kedua negara yang kuat dan erat. ”Hal itu sangat penting, apalagi tantangan di zaman sekarang ini dan masa depan sangat kompleks, baik itu di tingkat lokal, regional, maupun internasional,” katanya. Presiden mengatakan, problem yang senantiasa muncul dalam hubungan kedua negara adalah stereotip lama, ini menyesatkan. Pada zaman televisi kabel dan internet saat ini, lanjutnya, masih ada orang Australia yang melihat Indonesia sebagai negara otoritarian, diktator militer, atau kekuasaan yang ekspansionis. Di pihak lain, di Indonesia masih ada orang yang terjangkit ”Australiaphobia”, orang yang percaya bahwa pengertian ”White Australia” masih ada. Selain itu, masih ada juga yang berpendapat bahwa Australia punya niat buruk terhadap Indonesia dan simpati ataupun mendukung elemen-elemen separatis. Mental semacam ini harus dihilangkan. ”Saya ingin semua orang Australia mengetahui bahwa Indonesia adalah kepulauan yang indah, tetapi kami bukan hanya sekadar tempat bermain di pantai yang banyak pohon kelapanya,” katanya yang disambut dengan tepuk tangan. Mengubah pola pikir semacam itu merupakan tantangan bagi kedua negara. Selain itu, untuk mengelola hubungan yang semakin kompleks, menurut Yudhoyono, antara lain akan dilakukan retret pemimpin kedua negara setahun sekali dan para menteri melakukan pertemuan dua kali setahun, dengan melibatkan menteri pertahanan dan menteri luar negeri kedua negara.
