Kamis, 9 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 9 Februari 2012 | 21:46 WIB
China Tingkatkan Keamanan di Tibet
| bnj | Rabu, 10 Maret 2010 | 19:29 WIB
|
Share:

AP Photo/Manish Swarup
Ilustrasi

BEIJING, KOMPAS.com - China meningkatkan keamanan di ibu kota Tibet saat wilayah itu memperingati ulang tahun pemberontakan yang gagal tahun 1959 terhadap kekuasaan China dan kerusuhan berdarah tahun 2008, demikian dikatakan salah seorang warga, Rabu (10/3/2010).

Tibet berada dalam keamanan yang ketat sejak kerusuhan anti China dua tahun lalu, tetapi patroli-patroli polisi dan ketegangan meningkat di Lhasa.

"Ada patroli-patroli setiap hari dan kegiatan itu meningkat," kata seorang staf di Hotel Jin Cheng International Business di Lhasa, yang hanya menyebut nama keluarganya Li.

"Ada dua atau tiga polisi bertugas di setiap persimpangan jalan," tambahnya.

Pemberontakan terhadap kekuasaan China atas wilayah Himalaya yang berpenduduk mayoritas beragama Buddha itu meletus 10 Maret 1959.

Namun, pemberontakan tersebut berhasil ditumpas China dalam beberapa minggu, yang memaksa Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet lari ke luar negeri.

China menyebut kegagalan pemberontakan itu sebagai awal dari reformasi demokrasi Tibet melepaskan diri dari hari-hari feodalnya. Tetapi, memerintah dengan dengan tangan besi atas wilayah itu.

Protes-protes terjadi pada ulang tahun pemberontakan itu tahun 2008, meningkat pada har-hari berikutnya menjadi kerusuhan di seluruh Tibet dan daerah-daerah tetangga yang dihuni banyak warga Tibet.

China menanggapinya dengan satu tindakan keras keamanan sejak saat itu. "Ada ketegangan kecil. Banyak patroli," kata seorang staf wanita di Hotel Xue Yu.

Ia mengatakan petugas keamanan baik yang memakai seragam maupun berpakaian sipil banyak berpatroli. "Situasi yang tegang ini memaksa hotel ditutup sampai 21 Maret," katanya.

"Hotel Zaxiquta juga mengurangi pesanan kamar sampai pekan depan karena ketegangan di wilayah itu," kata seorang staf pria kepada AFP.

"Kami tidak memiliki tamu sekarang, hanya empat orang. Tetapi kami memiliki lebih dari 70 tempat tidur," katanya tanpa menyebut namanya.

Ia menambahkan para tamu pulang sebelum malam tetapi tidak ada orang yang dihubungi AFP melaporkan jam malam diberlakukan pemerintah atau peringatan-peringatan keamanan dikeluarkan.

"Dalai Lama berusaha menghancurkan dan menimbulkan kekacauan," kata sekretaris Partai Komunis wilayah itu Zhang Qingli di laman internet pemerintah.

China mengatakan 21 orang dibunuh para perusuh tahun 2008, sementara pasukan keamanan hanya membunuh seorang pemberontak.

Tetapi pemerintah Tibet di pengasingan mengatakan lebih dari 200 orang tewas dan 21.000 lainnya cedera dalam kerusuhan itu dan tindakan-tindakan sesudah itu di daerah terpencil.

Paling tidak 5.700 orang ditahan sehubungan dengan kerusuhan itu. Banyak bhiksu Buddha dihukum penjara untuk waktu lama," kata pemerintah.

China menganggap Dalai lama sebagai seorang separatis dan menyalahkan dia atas kerusuhan di Tibet.

Pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 1989 itu mengatakan, ia hanya menginginkan otonomi luas bagi wilayah itu, bukan kemerdekaan.

Sumber :
ANT, AFP