Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 15:16 WIB
Junta Militer Kok "Ngurus" Demokrasi?
Josephus Primus | primus | Rabu, 10 Maret 2010 | 05:38 WIB
|
Share:

AP PHOTO/KHIN MAUNG WIN
Seorang biksu muda Buddhis Myanmar membeli surat kabar terbitan pemerintah dari seorang penjual koran di Yangon, Myanmar, Selasa (7/3). Junta militer Myanmar mengumumkan akan menunjuk komisi pemilu yang menjadi penentu akhir pemilu, yang pertama kalinya diadakan dalam dua dekade terakhir.

TERKAIT:

WASHINGTON, KOMPAS.com — Amerika Serikat meragukan kredibilitas Pemilu Myanmar jika pengesahan UU Pemilu dilakukan rezim junta militer di Naypyidaw tanpa melibatkan para pemangku kepentingan lain.
    
”Kami mengimbau pihak berwenang Myanmar memulai dialog politik dengan semua pemangku kepentingan...,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Philip Crowley di Washington DC, Selasa (9/3/2010).
     
”Dialog politik yang substantif itu merupakan langkah awal menuju penyelenggaraan pemilu yang kredibel tahun ini,” katanya menambahkan.
     
Gedung Putih mengkhawatirkan pengesahan UU Pemilu secara sepihak oleh junta militer Myanmar tanpa melalui dialog politik yang substantif berdasarkan demokrasi dengan para pemimpin oposisi ataupun kelompok etnis minoritas.  ”Kami tetap skeptis pada kredibilitas rencana penyelenggaraan pemilu tahun ini,” katanya.
   

Sumber :
ANT, AFP