Kaum perempuan etnis Berom di selatan Jos, Nigeria tengah, meratap di tepi jalan ketika truk berisi puluhan mayat melewati deretan rumah-rumah yang terbakar saat menuju kuburan massal, Senin sore. Perempuan dan anak-anak telah menjadi korban pembantaian keji dari etnis Fulani, asal Jos Utara.
Mereka mengecam para pelaku karena membantai manusia tanpa belas kasih. Kelompok itu tidak peduli apakah korban mereka adalah perempuan dan anak-anak tidak berdosa.
Bahkan, bayi berusia empat hari pun juga dibunuh. Isak tangis dan jeritan pilu terdengar di sejumlah kuburan massal ketika mayat-mayat bayi ditarik dan dimasukkan ke liang kubur.
Ada lebih dari 61 mayat yang dibawa ke sebuah kuburan massal di desa Dogo-Na-Hawa (Dogo Nahawa). Dari jumlah itu, 32 adalah jenazah anak-anak. Desa ini termasuk salah satu dari tiga desa yang menjadi korban penyerangan etnis Fulani, selain desa Ratsat, Jeni, dan Zot. Korban paling banyak terdapat di Dogo-Na-Hawa, distrik Foron, selatan Jos.
Puluhan korban tewas mengenaskan lain dimakamkan di kuburan massal di tempat lain. Di sebuah rumah duka setempat tergeletak potongan tubuh bayi disertai popoknya. Sejumlah saksi mata yang luput dari pembantaian mengatakan, perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan selama tiga jam pada hari Minggu seperti terjebak jala dan perangkap binatang. Mereka tidak bisa berdaya lagi ketika terjerat, lalu dibantai dengan keji oleh penyerang.
Jumlah korban tewas di tiga desa itu belum diketahui secara resmi. Ada yang menyebutkan 200 korban tewas, ada yang melaporkan 300 orang tewas. Laporan Pemerintah Negara Bagian Plateau melalui penasihat pemerintah, Dan Manjang, mengatakan, korban tewas mencapai 500 orang.
Kekerasan mengerikan ini terjadi tidak lama setelah pembunuhan bernuansa sektarian agama di wilayah Jos pada 17 Januari. Kala itu, lebih dari 300 orang tewas. Laporan resmi polisi saat itu menyebutkan, ada 326 orang tewas. Namun, kelompok hak asasi manusia (HAM) yang mendata langsung dari rumah ke rumah menyebutkan, ada lebih dari 500 orang tewas. Banyak korban dimasukkan ke saluran pembuangan dan sumur warga.
Pemerintah, tokoh agama, dan aktivis HAM di sejumlah negara mengutuk keras genosida di selatan Jos itu. Selain mengirim pernyataan turut berduka cita, mereka menyampaikan satu pesan khusus agar pelaku pembantaian ditangkap dan diadili di muka hukum.
Vatikan melalui juru bicaranya, Federico Lombardi, menyatakan, Gereja Katolik Roma sedih, terpukul, dan berduka atas kematian akibat ”kekerasan yang keji” itu. Uskup Agung Abuja John Onaiyekan mengatakan, kekerasan itu bukan karena agama meski pelaku dan korban berbeda agama. Akar konflik adalah kesenjangan sosial, ekonomi, perbedaan suku, dan budaya.
”Orang-orang bersenjata, gembala nomad ... yang disebut kaum Fulani menyerang desa petani yang dihuni etnis Berom,” katanya. ”Ini konflik klasik antara penggembala dan petani. Kebetulan semua Fulani beragama Islam dan Berom menganut Kristen.”
Pemerintah AS dan sebuah kelompok HAM internasional, Selasa, menyatakan, Nigeria agar segera menyelidiki, menangkap, dan mengadili pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab.
AS meminta Pemerintah Negara Bagian Palteau ”memastikan bahwa semua orang dan warga negara di wilayah Jos merasa dihormati dan dilindungi”. Kedutaan AS di Abuja mendesak pemerintah federal segera menegakkan keadilan di bawah payung hukum.
Aktivis Human Rights Watch, Corinne Dufka, mendesak Penjabat Presiden Nigeria Goodluck Jonathan mengerahkan polisi dan militer untuk melindungi penduduk di desa-desa sekitar Jos. Dia mendesak Nigeria agar segera menangkap otak pelaku kejahatan kemanusiaan itu.
Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan amat prihatin atas kejadian yang ”mengerikan”, yang telah menyebabkan ratusan warga tewas. Dia mendesak para tokoh politik, agama, dan tokoh lainnya agar segera menemukan ”solusi permanen” untuk pemulihan keadaan di Jos.
Presiden Goodluck Jonathan langsung melakukan rapat darurat dengan pihak terkait di Abuja untuk menyikapi kekerasan di Jos. Jonathan juga mengatakan, pasukan keamanan akan mengunci semua kemungkinan terulangnya kekerasan, penggunaan senjata, dan konflik lainnya di Nigeria, termasuk di Jos.
Jonathan memecat Sarki Mukhtar, Penasihat Keamanan Nasional (NSA) negara itu. Mukhtar adalah tokoh berpengaruh yang masuk dalam lingkaran pembantu Presiden Umaru Yar’Adua.
Yar’Adua sakit dan tugas-tugasnya diambil alih oleh Jonathan. Mukhtar digantikan oleh Aliyu Gusau, seorang pensiunan jenderal. Dia berjanji akan menegakkan keadilan dan memproses para pelaku kejahatan secara hukum.

