Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 00:38 WIB
Kubu Maliki Unggul
| Selasa, 9 Maret 2010 | 03:55 WIB
|
Share:

Kairo, Kompas - Hasil sementara penghitungan hasil pemilihan umum Irak, hingga Senin (8/3) sore waktu setempat, menunjukkan, Koalisi Negara Hukum pimpinan PM Nouri al-Maliki unggul di sebagian besar provinsi berpenduduk mayoritas Syiah di wilayah Irak Selatan. Mayoritas warga Irak adalah Syiah.

Koalisi Kubu Irakiyah atau Gerakan Nasional Irak pimpinan Ayad Allawi unggul di provinsi berpenduduk mayoritas Sunni, seperti Anbar, Diyala, Salahuddin, dan Ninevah.

Koalisi Kurdi pimpinan Masoud Barzani dan Jalal Talabani unggul di tiga provinsi Kurdi, yakni Arbil, Dohuk, dan Suleimaniyah.

Wilayah Syiah di Irak tengah dan selatan yang terdiri dari 9 provinsi mempunyai jatah 119 dari 325 kursi parlemen yang diperebutkan.

Wilayah Sunni di Irak Barat dan Utara memiliki jatah 70 kursi parlemen.

Wilayah Kurdi yang terdiri dari tiga provinsi memiliki jatah 41 kursi.

Kaum minoritas memiliki jatah 15 kursi. Ibu kota Baghdad mempunyai jatah 68 kursi. Provinsi khusus Kirkuk memiliki jatah 12 kursi.

Komisi pemilu independen menyampaikan, hasil final pemilu diperkirakan baru bisa diumumkan secara resmi pada 18 Maret.

Menurut laporan televisi satelit Aljazeera, hasil penghitungan suara sementara di kota suci Syiah Najaf, Koalisi Negara Hukum meraih 33 persen suara, Koalisi Nasional Irak pimpinan Ammar Hakim memperoleh 18 persen suara, dan Koalisi Kubu Irakiyah pimpinan Ayad Allawi hanya meraih 3 persen suara.

Di Provinsi Karbala dan Basra, Koalisi Negara Hukum unggul, disusul Koalisi Nasional Irak, kemudian Koalisi Kubu Irakiyah.

Kejutan ”Kubu Perubahan”

Di wilayah Kurdi ”Kubu Perubahan” pimpinan Nishurwan Mustafa secara mengejutkan memperoleh suara signifikan di Provinsi Suleimaniyah. Kubu ini untuk sementara unggul atas Koalisi Kurdi di kota Suleimaniyah.

Kubu Perubahan, sempalan dari Uni Patriot Kurdi (PUK), baru pertama kali ikut bertarung dalam pemilu legislatif nasional.

Perolehan suara Kubu Perubahan akan mengubah peta politik wilayah itu, serta hubungan antara Kurdi dan pemerintah pusat Baghdad. Media massa Arab menyebutkan, Kubu Perubahan merupakan bintang baru di pentas politik Kurdi.

Sementara itu, kemenangan sementara Koalisi Kubu Irakiyah atau Gerakan Nasional Irak pimpinan Ayad Allawi di wilayah Sunni sudah diduga. Koalisi ini dibentuk pada 31 Oktober 2009 dengan menghimpun kekuatan utama Sunni, seperti Front Irak untuk Dialog Nasional, pimpinan Saleh Mutlak dan Perkumpulan Demokrat Independen pimpinan Adnan Pachachi serta mantan politisi senior Partai Islami Tareq Hasyimi.

Persentase partisipasi warga Sunni dalam pemilu kali ini lebih besar dari warga Syiah. Harian Al Hayat melaporkan, partisipasi di wilayah Sunni mencapai 70 persen, berbanding hanya sekitar 60 persen di wilayah Syiah. Pada pemilu legislatif pertama tahun 2005, partisipasi warga Sunni sangat minim karena Sunni memboikot pemilu.

Menurut harian Al Hayat, keunggulan sementara Koalisi Negara Hukum di wilayah Syah dan keunggulan Koalisi Kubu Irakiyah di wilayah Sunni semakin memperkuat asumsi selama ini bahwa peluang terbesar untuk menduduki posisi kursi perdana menteri (PM) mendatang adalah antara al-Maliki dan Allawi.

 Menteri Luar Negeri Irak Hoshyar Zebari mengatakan, tidak akan ada kekuatan politik yang menang mutlak. Kekuatan-kekuatan politik harus membangun koalisi di parlemen untuk bisa membentuk pemerintahan.

Para elite politik pun mulai melobi untuk membangun koalisi. Proses lobi politik akan memakan waktu lebih dari dua bulan. Menurut pengamat, jika proses lobi politik memakan waktu berbulan-bulan, bisa terjadi kekosongan kekuasaan yang bisa berdampak negatif terhadap situasi keamanan. (mth)

 

Jumat, 25/05/2012 19:20 WIB

Gen Untuk Pil Kontrasepsi Pria

Jumat, 25/05/2012 14:18 WIB

AS Pangkas Dana Bantuan untuk Pakistan