ANKARA, KOMPAS.com - Polisi Turki, Senin, menahan 40 orang, termasuk bekas kepala angkatan udara dan angkatan laut, berkaitan dengan dugaan rencana kudeta militer terhadap pemerintah.
Tindakan polisi itu dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat antara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa yang merupakan cabang moderat dari sebuah gerakan Islam yang dilarang, dengan para penentang sekulernya. "Pagi ini pasukan keamanan kami telah memulai proses penahanan itu," kata PM Turki Recep Tayyip Erdogan pada konferensi pers dalam kunjungan resmi ke Spanyol."Mulai sekarang, lebih dari 40 orang telah ditahan," ujarnya. Tetapi ia tidak memberikan perincian mengenai siapa yang ditangkap.
CNN berbahasa Turki dan saluran berita NTV menyatakan polisi telah menahan bekas panglima angkatan udara Ibrahim Firtina, bekas panglima angkatan laut Ozden Ornek dan sejumlah pejabat berpangkat tinggi lain yang sudah pensiun dan masih berdinas aktif di Ankara, Istanbul dan Izmir di Turki barat serta kota Bursa di baratlaut. Orang-orang yang ditahan itu telah dibawa ke Istanbul untuk dimintai keterangan oleh polisi anti-teror. Mereka itu termasuk sedikitnya lima pejabat pensiunan penting lainnya, di antara mereka adalah Ergin Saygun, bekas komandan Militer Pertama dan pensiunan laksamana Ahmet Feyyaz Ogutcu dan Lutfi Sancar.
CNN-Turki menyatakan, kepala staf angkatan darat Ilker Basbug telah menangguhkan lawatan resmi tiga harinya ke Mesir karena operasi itu. Tidak ada komentar mengenai penahanan itu baik dari polisi maupun penuntut yang memerintahkan penangkapan tersebut. Firtina dan Oznek terkait dengan apa yang diakui sebagai komplotan 2003 untuk mendiskreditkan pemerintah AKP yang diungkapkan oleh harian liberal Taraf, Januari.
Rencana itu, yang diberi nama sandi Sledgehammer melibatkan pemboman dua masjid di Istanbul dan meningkatkan ketegangan dengan Yunani dengan memaksa jet Yunani untuk menjatuhkan pesawat Turki di atas Laut Eagea. Menurut dokumen yang diperoleh Taraf, upaya itu untuk menunjukkan pemerintah.
Militer Turki mengatakan dokumen itu telah dibicarakan dalam seminar mengenai kemungkinan rencana waktu perang, tapi membantah dokumen itu mencerminkan rencana kudeta. Operasi Sledgehammer adalah yang terakhir dari serangkaian tuduhan yang dikatakan sebagai rencana militer, sebagian besar diungkapkan oleh media pro-pemerintah, yang ditujukan untuk menimbulkan kekacauan politik di negara itu dan menjatuhkan pemerintah AKP.
Tuduhan itu, menurut Basbug, merupakan kampanye psikologis untuk memfitnah militer dan memperingatkan kemungkinan konfrontasi di antara lembaga-lembaga.
Puluhan dari tersangka telah diadili karena diduga menjadi anggota jaringan Ergenekon. Penyelidikan Ergenekon, yang dimulai pada 2007, pada awalnya dipuji berhasil di negara yang militernya telah menggeser empat pemerintah sejak 1960 dan memegang kekuasaan politik penting.
Namun penyelidikan itu kehilangan kredibilitasnya ketika polisi mulai menargetkan wartawan, akademisi dan penulis yang dikenal sebagai pengkritik AKP, dan beberapa tersangka menuduh polisi memalsukan dan mengarang bukti. Pengeritik pemerintah khawatir tuduhan itu merupakan upaya yang dikarang oleh para pendukung AKP untuk melumpuhkan militer dan menggeser rintangan besar bagi agenda rahasia AKP untuk mengubah Turki menjadi negara Islam.
