Bandung, Kompas - Minat membaca dan menulis mayoritas masyarakat Indonesia harus ditingkatkan. Aktivitas itu diyakini mampu membentuk karakter positif masyarakat Indonesia.
"Hingga saat ini membaca dan menulis belum menjadi kebutuhan penting. Keduanya dianggap aktivitas yang tidak berguna atau tidak bisa langsung didapat manfaatnya," ujar Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia Yudi Latif dalam diskusi tentang buku karyanya Menyemai Karakter Bangsa, Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan di Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung, Kamis (18/2).
Menurut Yudi, sejak lama tulisan, buku, atau karya sastra memegang peranan penting dalam perjalanan pembentukan Indonesia. Beberapa buku seperti Hikayat Kadirun karya Semaun dan Student Ijo karya Mas Marco Kartodikromo telah menggelorakan kemerdekaan jauh sebelum 17 Agustus 1945.
Hal itu tidak ditemui saat ini. Salah satu penyebab adalah minimnya pemahaman tentang pentingnya berbagai macam tulisan dan karya sastra yang diperkenalkan sejak dini, khususnya oleh pendidikan formal. Saat ini hasil tulisan atau karya sastra hanya dianggap sebagai pelengkap dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Bahkan, akibat teknokrasi yang keliru, bahasa dan sastra di dunia pendidikan semakin tersingkirkan. Bahasa dan sastra dianggap kalah kualitas ketimbang teknik atau ilmu pasti dalam memberikan jaminan hidup. Akibatnya, minat masyarakat menulis atau membaca karya sastra pun berkurang.
"Hal ini harus disadari dan dicari jalan keluarnya. Pendidikan formal harus terus mengajak siswa mendalami tulisan atau karya sastra lewat diskusi atau praktik pemahaman mendalam terkait isi tulisan atau buku," kata Yudi.
Puas
Ketua Forum Studi Kebudayaan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Acep Iwan Saidi mengatakan, minimnya minat membaca sangat terasa di Indonesia. Masyarakat cukup puas dengan apa yang diterimanya. Hal itu harus diwaspadai di tengah maraknya perkembangan teknologi informasi. Tanpa membaca atau mendalami lebih lanjut, kemudahan teknologi dan informasi justru bisa menjerumuskan mereka sendiri.
"Contohnya ketika melihat tontonan peristiwa di media elektronik. Besar kemungkinan persepsi mereka nantinya keliru bila tidak melakukan cek ulang dari berbagai literatur," ujarnya.
Fenomena ini juga masih terjadi di perguruan tinggi. Salah satu contohnya adalah motif mahasiswa datang ke perpustakaan. Sebagai Kepala Perpustakaan Seni Rupa, ia melihat mayoritas mahasiswa datang ke perpustakaan karena kepentingan membuat tugas atau skripsi. Akibatnya, literatur yang dibaca adalah skripsi kakak angkatannya dan kemudian mengutipnya. Adapun buku-buku yang seharusnya dibaca untuk memperkuat skripsi atau tesis cenderung dilupakan.
Perwakilan Forum Kajian Perempuan dan Literasi Siloka, Evi Harfiyah Widiawati, menegaskan, dunia pendidikan formal harus melihat hal ini sebagai ancaman serius. Selama ini dunia pendidikan formal tidak melihat minat baca dan tulis sebagai prioritas.
"Pendidikan formal harus menyadari, minat baca dan tulis, khususnya karya sastra, bisa memberikan nilai lebih bagi pelakunya, seperti pembentukan watak dan dorongan menumbuhkan semangat kreatif," ujarnya. (CHE)
