TRIAS KUNCAHYONO KOMPAS.com - Suatu hari, pada awal tahun 1970-an, Andrei Gromyko, saat itu Menteri Luar Negeri Uni Soviet, kembali ke Moskwa dari tempat peristirahatan di Zavidovo. Ia naik mobil yang dikemudikan Leonid Brezhnev, Sekjen Partai Komunis Uni Soviet. Hanya mereka berdua di dalam mobil itu. ”Leonid Illyich,” kata Gromyko kepada Brezhnev, ”Harus ada tindakan nyata menyangkut masalah vodka. Rakyat kita sudah senang mabuk-mabukan, alkoholik.” Brezhnev tidak menjawab. Lima menit kemudian, Gromyko merasa menyesal mengapa harus berbicara masalah vodka. Namun, tiba-tiba Brezhnev menjawab, ”Andrei, tak mungkinlah orang Rusia bekerja bila tanpa vodka.” Dialog antara Gromyko dan Brezhnev itu diceritakan kepada Mikhail Gorbachev oleh Gromyko. Gorbachev tidak sependapat dengan Brezhnev. Hanya dua bulan setelah menjadi Sekjen Partai Komunis Uni Soviet (Mei 1985), Gorbachev mengeluarkan dekrit yang diberi judul ”Langkah-langkah untuk Mengatasi Kemabukan dan Alkoholisme”. Ia melancarkan perang melawan vodka, yang menurut survei mengakibatkan banyak orang kecelakaan kerja, kecelakaan jalan raya dan kereta, menurunnya produktivitas, serta memperpendek harapan hidup. Itulah yang kemudian disebut sebagai Revolusi Vodka yang ternyata berdampak baik, misalnya kinerja para buruh Rusia meningkat, mengurangi angka kecelakaan, dan menurunkan angka kejahatan (The New Yorker, 2002) Revolusi seperti itu tentu tidak masuk dalam pengertian umum tentang revolusi, zaman dulu. Sebelumnya selalu dikatakan: pada hakikatnya, revolusi berarti perubahan cepat mentransformasikan masyarakat keseluruhan ke dalam tatanan yang berlainan, bahkan tidak jarang berubah ideologi, lewat pergolakan bersenjata. Jonathan Steele dalam bukunya Eternal Russia menuliskan, revolusi yang sebenarnya selalu menyangkut masalah kekuasaan dan kemiskinan. Revolusi meruntuhkan otoritas dan kekayaan kalangan elite, dan membagikannya di antara para pelaku baru. Karena itu, revolusi sering disebut pula sebagai pilihan politik yang sangat ekstrem dari sebuah kelompok yang tidak sepaham (dengan penguasa). Langkah itu umumnya diambil setelah cara-cara atau jalan yang lebih moderat dan sah untuk mendapatkan pengakuan atau melakukan pembaruan gagal. Walaupun kelompok itu hanyalah kelompok minoritas politik, revolusi biasanya mencerminkan ketidakpuasan masyarakat secara umum. Karena itu, revolusi berbeda dengan kudeta yang merupakan perebutan kekuasaan negara secara tiba-tiba oleh sekelompok faksi atau elemen pemerintah. Cara itu pula yang pada tahun 1989 dipilih rakyat Cekoslovakia. Mereka mengobarkan sebuah revolusi yang kemudian disebut Revolusi Beludru. Ini adalah revolusi tanpa darah yang menyingkirkan pemerintahan komunis. Hasil revolusi itu adalah tumbangnya rezim komunis dan tampilnya Vaclav Havel sebagai Presiden Cekoslovakia. Setelah Revolusi Beludru bermunculanlah revolusi lain di negara-negara bekas Uni Soviet dan juga Eropa Timur. Slogan mereka, waktu itu, sama, yakni tegakkan demokrasi, liberalisme, dan nasionalisme. Di Georgia pada tahun 2003 pecah revolusi yang diberi nama Revolusi Mawar. Revolusi ini berakhir dengan tumbangnya Eduard Shevardnadze yang memerintah Georgia sejak 1992 dan menjadi Presiden Georgia sejak tahun 1995. Yang terjadi di Georgia menginspirasi rakyat Ukraina tahun 2004. Pemicunya sama: memprotes korupsi yang merajalela, pemilu yang kotor karena jual-beli suara dan intimidasi, serta memprotes pemilu langsung untuk memilih presiden. Warna oranye dipilih oleh para demonstran sebagai warna resmi simbol perjuangan. Warna ini dipilih karena merupakan warna yang digunakan kandidat dari kubu oposisi, Viktor Yushchenko, selama kampanye pemilu presiden. Revolusi Oranye sering pula disebut Revolusi Chestnut, yakni sejenis pohon yang banyak tumbuh di Kiev, ibu kota Ukraina. Namun kini, lima tahun kemudian, tokoh revolusi itu dipermalukan rakyat dalam pemilu. Ia tersingkir pada babak pertama karena dianggap tidak mampu menyuburkan pohon Revolusi Oranye, memakmurkan rakyat. Bukan hanya Yushchenko tokoh revolusi yang tersingkir, tetapi juga Yulia Tymoshenko, yang setelah revolusi menjadi perdana menteri. Rakyat memilih Viktor Yanukovich, tokoh oposisi, yang pro-Moskwa, untuk memimpin Ukraina. Itulah revolusi pikiran dan kesadaran rakyat: pemimpin yang tidak bisa diandalkan lebih baik ditinggalkan.


