
Tymoshenko yang saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri, disebutkan beberapa media Ukraina, juga telah menegaskan bahwa dirinya tidak akan menerima legitimasi Viktor Yanukovich sebagai presiden. Wakil Ketua Blok Yulia Tymoshenko, Elene Shustik, menjelaskan, kubunya belum memutuskan apakah akan meminta dilakukannya pemilu putaran ketiga atau sekadar meminta dilakukan penghitungan ulang. ”Jika hasil di pengadilan positif, kami akan mempertanyakan hasil keseluruhan,” jelasnya. Para pengamat asing sejauh ini justru memuji pelaksanaan pemilihan umum di Ukraina itu. Dengan 99 persen kertas suara yang sudah dihitung, Yanukovich diperkirakan akan unggul dengan perolehan dukungan suara 48,83 persen, sementara Tymoshenko didukung sekitar 45,59 persen pemilih. Sekitar 4,4 persen pemilih, menurut Komisi Pemilu Ukraina, tidak mendukung Yanukovich maupun Tymoshenko. Adapun 1,2 persen kertas suara dinyatakan rusak. ”Hari pemungutan suara menunjukkan sebuah pelanggaran yang mengolok-olok hukum Ukraina oleh tim Yanukovich. Tekanan terhadap pemilih dan pemalsuan yang luas oleh pengurus wilayah partai (Viktor Yanukovich). Sebagai konsekuensinya, kubu Tymoshenko mengumumkan bahwa kami akan mempertahankan di pengadilan hak kami, hak-hak warga kami, atas sebuah pemilihan umum yang jujur dan transparan,” kata Serhiy Sobolev, salah seorang anggota parlemen dari kubu Tymoshenko, seperti dikutip BBC. Situs media Ukrainskaya Pravda maupun kantor berita Rusia, ITAR-Tass, melaporkan, Tymoshenko telah menginstruksikan para pengacaranya untuk membuat gugatan hukum atas hasil pemilu yang diselenggarakan hari Minggu (7/2/2010). Meski demikian, dilaporkan bahwa suara di kubu Tymoshenko juga terpecah. Beberapa anggota partainya, khususnya kalangan garis keras, tidak sependapat dengan Tymoshenko, dan meminta dia untuk mengakui kekalahannya, mundur sebagai perdana menteri, dan mengambil tempat sebagai oposisi. Meski menolak hasil pemilu, sejauh ini kubu Tymoshenko tidak menyerukan dilakukannya aksi protes di jalan-jalan. Dalam pernyataan tertulis mengenai pemilu Ukraina, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton menyambut baik selesainya pemungutan suara. Uni Eropa pun menyatakan siap bekerja sama dengan Yanukovich. Penilaian positif diberikan terhadap penyelenggaraan pemilu Ukraina itu oleh Misi Pemantau Pemilu Internasional yang dipimpin OSCE/ODIHR. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan tekad kubu Tymoshenko untuk mempersoalkan hasil pemilu putaran kedua. ”Kami akan melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa pemilu ini telah dipalsukan. Kami akan menyiapkan gugatan ke pengadilan segera,” ujar Serhiy Sobolev. Hasil pemilu putaran kedua Ukraina itu menandai kembalinya Yanukovich ke puncak kepemimpinan di negara itu. Mantan tahanan yang kalah dalam Pemilu 2004 itu sudah mengimbau agar Tymoshenko mengakui kekalahannya. Meski memilih, untuk menjalin hubungan dekat dengan Rusia, Yanukovich tahun lalu juga menyampaikan pentingnya hubungan dengan Uni Eropa. Pada musim kampanye, Yanukovich diolok-olok Tymoshenko karena ketidakmampuannya berpidato, pendidikannya yang rendah, dan statusnya yang pernah dipenjara. Akan tetapi, rakyat Ukraina tetap memilihnya.