Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:49 WIB
Wapres Jonathan Kuasai Kursi Presiden Nigeria
Taufiq Zuhdi | tof | Rabu, 10 Februari 2010 | 05:24 WIB
|
Share:

afp
Goodluck Jonathan

TERKAIT:

ABUJA, KOMPAS.com - Kesabaran parlemen Nigeria menanti kesembuhan sang presiden tampaknya habis sudah. Semalam, mereka mendesak Wakil Presiden Goodluck Jonathan untuk menjalankan pemerintahan negara berpenduduk paling padatdi Afrika tersebut.

Mereka khawatir, tidak adanya presiden semakin memperparah krisis politik di negara tersebut. Namun demikian, langkah ini tidak dimaksudkan untuk melanggar aturan konstitusi.

Dalam pidato di televisi Selasa malam, Jonathan mengatakan bahwa ia telah mengambil kekuasaan sebagai penjabat presiden dan panglima tertinggi di negara dari 150 juta orang. Dia mendesak semua warga Nigeria untuk terus berdoa bagi Presiden Umaru Yar'Adua, yang meninggalkan Nigeria untuk berobat Arab Saudi sejak 23 Desember.

Seperti diketahui, dokter Yar'Adua mengatakan yang bersangkutan telah lama menderita penyakit ginjal, sehingga harus menjalani perawatan perikarditis akut, suatu peradangan pada kantung sekitar jantung.

"Sejumlah peristiwa di masa lalu yang baru-baru ini terjadi telah menjadi ujian bagi bangsa ini untuk diselesaikan secara kolektif sebagai bangsa yang demokratis," kata Jonathan.

Dalam pidato itu, Jonathan mengatakan, sebagai bangsa mereka memiliki persatuan. "Kita negeri ini, dan harapan kita untuk masa depan yang besar yang lebih baik tidak tergoncangkan."

Sejumlah koran mulai khawatir mengenai kemungkinan kudeta skenario lantaran panjangnya absen Yar'Adua. Namun, para pemimpin militer bersikeras mereka tidak memiliki ambisi untuk mengambil kekuasaan dan akan menghormati konstitusi.

Jonathan mengucapkan terima kasih layanan keamanan selama Selasa malam yang dimaksudkan sebagai kesetiaan mereka dan pengabdian kepada tugas selama periode cobaan ini.

Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat pada hari Selasa meminta Jonathan bertindak sebagai presiden dan panglima tertinggi sampai Yar'Adua kembali dari Arab Saudi. Ada indikasi Yar'Adua akan kembali dalam waktu dekat, dan namun kondisi penyakitnya hingga kini tetap belum diketahui oleh publik.

Sumber :
AP