Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 02:29 WIB
AS Tepis Tuduhan Rusia Soal Pertahanan Misil
| tof | Rabu, 10 Februari 2010 | 03:27 WIB
|
Share:

AP Photo/RIA-Novosti/Dmitry Astakhov
Presiden Rusia Dmitry Medvedev (kiri) terlihat di atas kapal penjelajah Rusia, Admiral Kuznetsov, di Laut Barents, utara Rusia, Sabtu (11/10). Medvedev berada di sana untuk menyaksikan uji coba penembakan misil antarbenua dari sebuah kapal selam Rusia. Hari Minggu (1/11), Rusia juga sukses uji coba rudal antarbenua.

TERKAIT:

WASHINGTON, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menegaskan rencana pengembangan pertahanan misilnya di Eropa, bukan ditujukan kepada Moskwa, melainkan Teheran.

Penegasan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Philip Crowley di Washington DC Selasa, sekaligus untuk menepis tuduhan KSAD Rusia, Jenderal Nikolai Makarov.

"Arsitektur pertahanan misil di Eropa itu bukan ditujukan kepada Rusia tetapi lebih kepada ancaman dari Iran," kata Crowley.

Sebaliknya, AS terus membahas cara kedua negara bekerja sama barkaitan dengan pertahanan misil.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Rusia, Jenderal Nikolai Makarov mengatakan, rencana pengembangan pertahanan misil AS di Eropa itu dimaksudkan untuk "melemahkan" negaranya.

Bahkan, dia menyebut aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS sebagai ancaman "serius" bagi Rusia.

"Pengembangan sistim pertahanan misil ini jelas sekali dimaksudkan untuk melemahkan daya tangkal nuklir Rusia," katanya seperti dikutip sejumlah kantor berita Rusia.

Sejalan dengan pandangan Jenderal Makarov, Kepala Dewan Keamanan Rusia, Nikolai Patrushev, menegaskan NATO adalah ancaman militer utama bagi negaranya.

"Kami sangat bimbang bahwa kami akan lebih aman dengan perluasan NATO. Bagi kami, NATO adalah ancaman serius," kata mantan direktur Badan Intelijen FSB itu.

Hubungan NATO dan Rusia sempat membeku akibat Perang Georgia (Agustus 2008).

Hubungan itu mulai mencair di tengah upaya kedua pihak menjawab berbagai tantangan bersama, seperti konflik Afganistan dan perang melawan terorisme.

Sumber :
ANT, AFP