Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:01 WIB
Fonseka, yang Dipuja yang Dipenjara...
Taufiq Zuhdi | tof | Selasa, 9 Februari 2010 | 06:28 WIB
|
Share:

KOLOMBO, KOMPAS.com — Penangkapan mantan panglima militer Sri Lanka, Sarath Fonseka, adalah kejatuhan yang dramatis bagi seorang pemimpin yang delapan bulan lalu pernah dianggap sebagai pahlawan oleh banyak orang.

Sebagai arsitek medan perang, kemenangan militer atas pemberontak Macan Tamil, Mei lalu, begitu melambungkan namanya. Maklum, ia adalah seorang komandan yang akhirnya mampu menghentikan pemberontakan separatis Tamil untuk kemerdekaan tanah air yang telah berjalan 37 tahun.

Akan tetapi, inilah realitas politik. Keberhasilannya menaklukkan Macan Tamil segera diterjemahkan ke dalam kekuasaan politik. Bersama bekas sekutunya, ia bersaing dengan Presiden Mahinda Rajapakse dalam meraih dukungan massa dalam pemilu nasional, Januari lalu.

Sebagai sama-sama pemain, tentu saja Rajapakse tidak mau tinggal diam. Ia pun beradu kuasa, mengklaim bahwa dirinya punya jasa dalam meraih kemenangan di medan pertempuran. Maka, jadilah realitas politik itu. Persaingan. Sebuah pertempuran baru merebut kursi presiden, yang akhirnya memosisikan Fonseka sebagai pihak yang kalah.

Fonseka (59) adalah ayah dari dua anak perempuan. Keduanya kini belajar di Amerika Serikat. Dalam kampanye "melawan" kubu Rajapakse lalu, Fonseka merangkul semua pihak, mulai dari Tamil, Marxis, sayap kanan, hingga kaum nasionalis dalam sebuah bangunan koalisi.

Namun, pencinta tinju ini sering tampak gelisah di depan media. Saat kampanye, dia sering menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang tekanan PBB untuk penyelidikan kejahatan perang yang dialamatkan kepadanya bahwa ia telah memerintahkan memberangus pemberontak Macan Tamil.

PBB menyatakan, 7.000 warga sipil tewas selama masa itu dan badan dunia itu menilai ada pembunuhan di luar hukum dari tahanan Tamil. Semua ini dipersalahkan kepadanya.

Pada April 2006, Fonseka lolos dari percobaan pembunuhan ketika pemberontak Macan melakukan bom bunuh diri di sebuah kompleks militer di Kolombo, yang menargetkan dirinya.

Fonseka masih membawa bekas-bekas luka dari ledakan dan dengan bangga ia menunjukkannya kepada mereka.

Suatu hari Fonseka pernah berkata, ia sebenarnya enggan masuk dunia politik. Karena itulah, begitu kalah dalam pemilu, ia bermaksud turun kembali menjadi manusia biasa.

"Saya sebenarnya tidak tertarik masuk ke politik. Yang ingin saya lakukan adalah pensiun dan bersama keluarga saya," tutur Fonseka sesaat setelah menyatakan pencalonannya.

"Aku telah menang perang, tetapi gagal menjadi presiden untuk memenangkan perdamaian."

Fonseka adalah bagian dari warga Sri Lanka yang mendapat pendidikan dari negaranya sendiri. Dia telah memegang green card, yang memberinya hak residensi untuk tinggal di Amerika Serikat setelah menang dalam sebuah undian.

Namun, apa daya. Belum lagi semua impiannya itu tercapai, semuanya sudah berubah. Kemarin, ia ditangkap mendadak. Belum jelas, apakah ini titipan internasional atau sekadar ketakutan Rajapakase karena terancam sehingga harus menangkap mantan rivalnya itu.

Memang tidak ada kawan yang abadi dalam politik, apalagi dua pahlawan dalam satu kapal.

Taufiq Zuhdi

Sumber :
AFP