Warga Ukraina dengan bersemangat mendatangi tempat-tempat pemungutan suara (TPS) meskipun jalan-jalan di negara itu dipenuhi salju dan temperatur berada di bawah nol derajat. Tingginya kesadaran rakyat pemilih itu disebabkan harapan besar mereka agar kandidat pilihan mereka bisa menolong Ukraina keluar dari kisruh politik dan krisis ekonomi.
Antrean para pemilih terlihat sejak pagi di sejumlah TPS, untuk memilih Tymoshenko atau pemimpin oposisi Yanukovich yang saling membenci.
Miroslava Dzhmil, pengajar bahasa di kota Lviv, bagian barat Ukraina, mengaku memilih Tymoshenko karena meramalkan konsekuensi buruk jika Yanukovich terpilih karena citranya yang tidak terdidik, bekas tahanan, dan kasar.
”Jika Yanukovich menang, maka Ukraina akan dipermalukan di seluruh dunia. Seseorang yang tidak terdidik, tidak mengetahui kesusastraan, atau etika-etika dasar, tidak bisa menjadi presiden,” ungkap Dzhmil (35).
Sebaliknya di wilayah industri dan kawasan kota berbahasa Rusia, Donetsk, para pemilih justru mengecam Tymoshenko, salah satu pemimpin Revolusi Oranye yang pro-Barat pada 2004.
”Yanukovich akan menang karena hanya dia yang bisa mengakhiri kehancuran ini. Dan kalau dia tidak menang, saya akan mengangkat senjata untuk mengejar para pendukung Revolusi Oranye,” kata Gennady (65), pensiunan penambang batu bara di Donetsk.
Serafima Zykova, seorang pensiunan di kota pelabuhan Sevastopol, mengatakan, dia memilih Yanukovich karena bisa menjadi manajer yang baik.
”Apa yang baik dia lakukan untuk kita? Tak ada,” tegas Zykova (81) mengenai Tymoshenko yang sebagai perdana menteri belum melakukan apa-apa.
Tidak sedikit pemilih yang tidak memilih kedua kandidat itu.
Banyak pengamat meyakini, siapa pun yang kalah pada pemilu putaran kedua ini pastilah dia tidak akan mengaku kalah dan akan menggugat kekalahannya di pengadilan atau melakukan aksi-aksi protes di jalan.
Baik Yanukovich maupun Tymoshenko diyakini telah menyiapkan massa dan taktik-taktik untuk menimbulkan konflik manakala ada tanda-tanda akan kalah.


