Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 23:25 WIB
Jajak Pendapat: Yanukovich Presiden Ukraina
Taufiq Zuhdi | tof | Senin, 8 Februari 2010 | 01:51 WIB
|
Share:

AFP PHOTO / Viktor Dracev
Seorang wanita tua memberikan suara nya di halaman rumahnya di Desa Orane, sekitar 100 km dari ibukota Ukraina Kiev, Minggu (7/2/2010). Hasil jajak pendapat mengunggulkan Viktor Yanukovich sebagai presiden baru

TERKAIT:

KIEV, KOMPAS.com - Pemimpin oposisi Viktor Yanukovich diprediksi melenggang menuju kursi presiden Ukraina. Demikian hasil jajak pendapat yang dirilis Minggu (7/2/2010)

Seperti diketahui, Yanukovich yang pro-Moskwa itu harus bertanding melawan rivalnya, Perdana Menteri Yulia Tymoshenko, dalam suatu pemilihan yang diprediksi akan membuka jalan lebih dekat dengan Rusia.

Dalam jajak pendapat tersebut, Yanukovich meraih 48,7 persen suara, sementara Tymoshenko meraih 45,5 persen. Sisa 5,5 persen lainnya tidak memilih keduanya.

Jika jajak pendapat yang diselenggarakan sebuah pusat penelitian di Kiev ini benar, ini akan menandai kembalinya Yanukovich, yang pernah kalah dalam pemilihan presiden pada 2004 lalu lantaran kemenangannya dianggap sebagai kecurangan.

Serupa, hasil exit poll yang ditunjukkan televisi ICTV memberi angka hampir sama. Dalam jajak pendapat itu, Yanukovich berhasil meraih 49,8 persen suara, sementara Tymoshenko's 45,2 persen, dan sisanya 5 persen tidak memilih keduanya.

"Terlalu dini untuk menyatakan dia seorang pemenang," kata tangan kanan Tymoshenko, Wakil Perdana Menteri Olexander Turchynov, menanggapi hasil jajak pendapat itu.

Namun puluhan tenda biru dikelilingi oleh ratusan pendukung Yanukovich telah muncul di sekitar gedung-gedung pemerintah pejabat di Kiev, sebagai tanda persiapan penyambutan kemenangan.

Seorang pejabat senior kementerian dalam negeri, Volodymyr Mayevski, mengatakan, Yanukovich memang meminta untuk mengumpulkan 50.000 orang di Kiev, namun hal ini belum dikonfirmasi oleh yang bersangkutan.

Tymoshenko yang berusaha memenangkan suara dengan menjanjikan membawa Ukraina ke dalam Uni Eropa sebelumnya mendapat kritikan. Banyak pihak menilainya sebagai tokoh oportunis, padahal di sisi lain dia menunjukkan hubungan yang hangat dengan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin.

Sumber :
AFP