Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 23:23 WIB
Para Orangtua Rela Lepas Anak
| jimbon | Jumat, 5 Februari 2010 | 11:22 WIB
|
Share:

AP PHOTO/RODRIGO ABD
Warga berkumpul di sebuah kamp di Port-au-Prince, ibu kota Haiti, Rabu (3/2). Gempa pada 12 Januari lalu menewaskan 200.000 orang dan menyengsarakan hampir dua juta warga.

TERKAIT:

PORT-AU-PRINCE, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat dan Haiti mengadakan perundingan mengenai nasib 10 misionaris AS. Mereka dituduh secara ilegal membawa anak-anak Haiti keluar dari Haiti yang terkena gempa pada 12 Januari lalu. Namun, para orangtua menyatakan telah rela melepas anak-anak mereka yang tak bisa diurus.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Rabu (3/2/2010) di Washington, mengatakan, membawa anak-anak tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi harus dilengkapi dengan prosedur.

Kesepuluh warga AS itu ditangkap, Jumat (29/1), ketika melintas masuk Republik Dominika dari Haiti dengan sebuah bus berisi 33 anak. Mereka mengatakan bermaksud baik.

Pihak berwenang Haiti mengatakan, mereka akan memutuskan apakah akan mengenakan dakwaan kepada sepuluh misionaris Baptis, yang kini ditahan di markas besar kepolisian Haiti dekat Bandara Port-au-Prince.

Para misionaris dari Idaho itu menyangkal keras terlibat dalam perdagangan anak. Mereka mengatakan hanya berusaha membantu sebagian dari ribuan anak yatim piatu yang tak terurus akibat gempa.

PM Haiti Jean-Max Bellerive mengatakan, kasus ini mencuri perhatian dari nasib rakyat Haiti. ”Saya yakin ini sebuah pengalih perhatian karena mereka sekarang berbicara lebih banyak mengenai 10 orang dibanding satu juta orang yang menderita,” katanya, yang mengakui niat baik misionaris itu.

Tak mampu mengurus

Wartawan kantor berita Associated Press berkunjung ke desa asal anak- anak itu. Mereka menemui para orang tua yang tak mampu memberi makan anak-anak mereka setelah gempa menghancurkan desa.

Dengan alasan itu, mereka menyerahkan anak-anak itu secara sukarela agar mereka mendapat kehidupan yang lebih baik. Banyak orangtua mengatakan tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau mereka harus menerima kembali anak-anak itu, yang sudah sempat dibawa.

Menurut mereka, itu bermula pekan lalu ketika seorang karyawan rumah yatim piatu setempat mengumpulkan penduduk desa dan mengatakan ada misionaris AS yang akan memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka di Republik Dominika dan mereka bebas berkunjung.

Banyak orangtua menyambut tawaran itu. ”Saya tinggal di sebuah tenda dengan seorang kawan. Pikiran saya tertuju pada nasib anak yang tidak bisa saya beri makan ,” kata Laurentius Lelly, teknisi komputer berusia 27 tahun, yang secara sukarela menyerahkan dua anaknya berusia 4 tahun dan 6 tahun. (Reuters/AFP/AP/DI)

Sumber :
Kompas Cetak