SAN JOSE, KOMPAS.com - Warga Kosta Rika hari Minggu (4/4) mendatang akan memilih siapa di antara para kandidat yang berhak menjadi presiden menggantikan Óscar Arias. Satu dari tiga kandidat yang maju untuk menggantikan pemenang hadiah Nobel Perdamaian itu adalah seorang wanita.
Pemimpin partai penguasa, Partai Pembebasan Nasional, Laura Chinchilla, yang juga mantan wakil presiden akan bersaing dengan Otto Guevara, calon dari partai oposisi sayap kanan dan Ottón Solís, dari kelompok kiri.
Sekitar 2,8 juta penduduk negara demokrasi tertua di Amerika Latin itu memenuhi syarat untuk memilih presiden baru, dua wakil presiden, serta anggota parlemen dan wali kota.
Perasaan ketidakamanan telah menjadi isu utama dalam kampanye di wilayah yang didera perdagangan narkoba, serta kekerasan bersenjata sisa masa lalu.
Chinchilla, yang telah bersumpah untuk memerangi kejahatan terorganisir, mencetak 41,9 persen dalam survei terbaru yang diterbitkan oleh surat kabar La Nación Unimer, sementara Guevara meraih 22,9 persen dan Solis mendapatkan 19,9 persen.
Kandidat utama membutuhkan 40 persen suara untuk melaju ke putaran kedua, yang akan berlangsung pada 4 April.
Dalam kampanye terakhir pekan ini, Chinchilla (50) optimistis bisa memenangkan pemilihan. Partainya telah merekrut 100.000 relawan untuk memobilisasi pemilih. Ini sekaligus sebagai pembuktian bahwa Partai Pembebasan Nasional (PLN), yang telah mendominasi perpolitikan di Kosta Rika selama enam dasawarsa itu masih punya taring.
Guevara, yang meraih posisi kedua dalam jajak pendapat mengusulkan adanya perubahan untuk mengakhiri korupsi dari pemerintah Arias.
Pria berusia 49 tahun calon dari Partai Gerakan Libertarian mengusulkan mengganti mata uang dolar, yang lebih banyak digunakan dalam transaksi perdagangan bebas dan memperkuat hubungan dengan negara-negara lain, terutama Nikaragua dan Panama.
Sementara Solis, yang asal Partai Aksi Warganegara, kelompok oposisi terbesar, telah tertinggal di belakang dalam beberapa survei.
Seperti diketahui, mantan presiden Rafael Angel Calderón telah mundur dari kampanye setelah menerima vonis lima tahun penjara untuk korupsi.
Sekitar 200 pengamat internasional, dari China hingga Prancis, termasuk anggota Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) untuk pertama kalinya akan ikut mengawasi pemilu di negara ini.
Ribuan anak-anak telah didorong untuk mengambil bagian dalam pemungutan suara secara simultan sebagai bagian dari proyek universitas untuk mempromosikan partisipasi demokratis.

