Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 22:56 WIB
Bocah-bocah Ini Telah Kehilangan Masa Depannya
Benny N. Joewono | bnj | Senin, 1 Februari 2010 | 15:40 WIB
|
Share:

PORT-AU-PRINCE, KOMPAS.com - Kesedihan dan wajah-wajah pilu, wajah bocah-bocah yang kehilangan sekolah, kini menghiasi sepanjang jalanan di kota-kota yang terkena gempa di Haiti. Miris.

Sebelum gempa menghancurkan sebagian besar sekolah mereka, para siswa ini setiap pagi senantiasa menikmati kegembiraan mereka.

Mereka berjalan beriringan menggunakan seragam sekolah dengan rambut berpita biru, di jalan-jalan ibukota Haiti. Sebuah potret masa depan tergambar dan ingin direngkuh lewat wajah-wajah nan polos ini.

Namun, setelah gempa meluluhlantakan negara mereka, kini keceriaan mereka hilang. Para siswa banyak yang tinggal di kamp-kamp kumuh. Mimpi-mimpi mereka tentang masa depan yang indah hancur bersama kehancuran negara ini.

"Semua bencana yang melanda negeri ini selama beberapa tahun terakhir ini. Seperti banjir, angin topan, dan kerusuhan, telah mengorbankan masa depan anak-anak ini," kata Berdadel Perkington (40).

"Mereka menjadi jauh dari sekolah, jauh dari masa depan yang indah," tambah Perkington, sukarelawan guru yang memberikan pelajaran matematika kepada sekelompok anak-anak, yang tinggal di kamp kumuh.

Mereka, para sukarelawan ini berharapkan, beberapa sekolah yang berada di luar zona gempa kembali dibuka pada hari Senin ini.

"Tapi itu bisa membutuhkan waktu satu bulan lebih, sebelum siswa yang berasal dari Port-au-Prince kembali sekolah," kata Marie-Laurence Lassegue Jocelin, Menteri kebudayaan dan komunikasi, Senin (1/2/2010).

Ada sekitar 200 sekolah yang berada di kota lokasi gempa hancur. Beberapa universitas dan sekolah teknologi bahkan diramalkan tidak akan pernah dibuka kembali.

Hal ini terkait dengan sekitar 200.000 orang tenaga pengajar dan mahasiswa, yang diperkirakan tewas, akibat gempa.

Di luar ibukota, sekolah mulai disiapkan untuk menampung sebagian besar siswa baru, yang ingin menyelesaikan pendidikan mereka. Ada sekitar 300 000 orang pengungsi dari Port-au-Prince.

"Anak-anak sekolah ini sangat tertekan. Mereka mengalami trauma psikis. Bahkan beberapa dari mereka kehilangan teman-teman, sahabat, dan yang paling menyedihkan mereka kehilangan orangtua," kata Lassegue.

"Ini masa yang sangat sulit bagi bocah seusia itu. Mereka merasa seolah dunia telah berakhir," katanya.

Sumber :
AP