PORT AU PRINCE, KOMPAS.com - Otoritas Haiti hari Minggu mengeluarkan peringatan kepada masyarakat setempat agar mewaspadai terjadinya perdagangan anak pascagempa bumi. Ini diumumkan setelah polisi menahan 10 orang Amerika yang diduga mencoba untuk meninggalkan negara itu dengan lebih dari 30 anak-anak.
"Kami telah belajar dari media bahwa banyak anak-anak telah meninggalkan negeri ini, tapi tidak ada otorisasi yang telah diberikan oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial," ungkap direktur institut Jeanne Pierre Bernard, kepada AFP.
Dia mengatakan, ratusan anak-anak yang dokumennya masih diproses itu sebenarnya bisa keluar sesuai peraturan, yakni dengan visa. Namun sejak bencana itu, semuanya menjadi tidak teratur. "Beberapa orang yang malah menggunakannya untuk memperdagangkan anak-anak itu," katanya.
Seperti diketahui, gempa berkekuatan 7,0 SR pada 12 Januari itu telah menewaskan sekira 170.000 orang, membuat lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggal dan meninggalkan banyak anak-anak yang rentan.
Pierre mengatakan, pihak berwenang Haiti juga telah diperingatkan untuk kasus-kasus pengambilan anak-anak di selatan Haiti. "Satu orang saja telah mengumpulkan 140 anak-anak. Kami akan bertindak dalam kasus ini," katanya.
Tentang ke-33 anak yang berhenti di perbatasan Dominika dengan 10 orang dari kelompok gereja AS pada hari Jumat, Pierre mengatakan bahwa Amerika tidak memberitahu petugas bea cukai bahwa mereka membawa anak-anak ke luar negeri.
"Untung seorang perwira polisi melihat puluhan anak-anak di dalam bus tanpa paspor," katanya.
"Saat ini kami telah menyusun surat-surat untuk mereka. Para pekerja sosial akan menyelidiki apakah mereka dicuri atau apakah mereka dipercayakan oleh orangtua mereka," katanya.
Ditambahkan, beberapa orangtua telah datang ke pusat perawatan di mana anak-anak itu ditampung, namun mereka tidak diperkenankan untuk membawanya pergi.

