Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 22:50 WIB
Ada 12 Orang Tewas dalam Baku Tembak di Mogadishu
Josephus Primus | primus | Jumat, 29 Januari 2010 | 19:07 WIB
|
Share:

AP PHOTO/FARAH ABDI WARSAMEH
Warga Somalia menolong anak-anak yang terluka dengan membawa mereka ke klinik, Rabu (29/7). Anak-anak itu telah menjadi korban pertempuran sektarian di Mogadishu, ibu kota Somalia.

TERKAIT:

MOGADISHU, KOMPAS.com - Pertempuran antara milisi Islam dan pasukan perdamaian Uni Afrika (AU)  yang dimulai Kamis dan berlanjut  Jumat (29/1/2010) menewaskan paling tidak 12 orang  di ibu kota Somalia, Mogadishu, kata dinas kesehatan dan saksi -saksi mata.
    
Milisi dari kelompok Al Shabaab , yang Washington tuduh wakil Al Qaeda  di negara Tanduk Afrika itu , mengatakan mereka menyerang pangkalan-pangkalan pemerintah  dan pasukan perdamaian   Uni Afrika (AU) AMISOM  sebelum mundur. "Pertempuran ini adalah yang terburuk dalam bulan-bulan belakangan nini," kata penduduk Mogadishu  Ahmed Hashi kepada Reuters.
    
Aksi kekerasan di Somalia  menewaskan 19.000 warga sipil sejak  dimulai tahun 2007 dan menyebabkan  1,5 juta orang lainnya mengungsi. Kenyataan ini membantu memicu  krisis terburuk kemanusiaan di dunia.
     
Badan-badan keamanan Barat mengatakan negara itu menjadi tempat persembunyian  kelompok gerilyawan Islam, termasuk relawan-relawan asing, yang menggunakan negara itu  untuk merencanakan serangan di seluruh wilayah itu dan di luar negara tersebut.
     
Dalam sebuah pernyataan, Al Shabaab mengaku bertanggung jawab atas serangan Kamis malam  dan menuduh pasukan Uni Afrika mengebom penduduk sipil. "Para gerilyawan menyerang pangkalan-pangkalan AMISOM dan pemerintah Sabtu malam  dan kami membunuh sejumlah tentara mereka," kata kelompok gerilyawan itu.
     
"Ketika kami mundur, pasukan  AMISOM dengan sengaja mulai menembak  daerah-daerah permukiman.. Kami tetap menargetkan mereka," kata kelompok itu.
      
Satu sumber militer AU  dan seorang pejabat pemerintah Somalia  yang menolak disebut namanya mengemukakan kepada Reuters  seorang serdadu Uganda tewas dalam pertempuran itu dan seorang lainnya cedera.
     
AU mengatakan dua tentara perdamaian AMISOM  tewas, Senin akibat ledakan di sebuah klinik medis AU dekat bandara Mogadishu.
     
Uganda  dan Burundi masing-masing menggelar 2.500 tentara perdamaian  di ibu kota Somalia itu, dan Djibouti , Kamis mengatakan  juga berencana akan mengirim 450 tentara , mungkin bulan depan.
     
Paling  tidak 25 orang juga cedera dalam bentrokan-bentrokan terakhir , seorang petugas layanan ambulans  kepada Reuters , mengatakan sebagian besar di  distrik-distrik Hodan  Wardhigley dan Howl Wadag. "Kami bangun akibat ledakan-ledakan  pukul 02:00 waktu setempat  dan sejak itu tidak tidur  karena suara tembakan yang tidak berhenti," kata Nurta Hussein , seorang penduduk lainnya.
     
Somalia tidak memiliki pemerintah pusat yang efektif  selama hampir dua dasawarsa . Itulah yang menyebabkan munculnya  panglima-panglima perang ,milisi bersenjata berat dan perompak  yang membajak kapal-kapal di lepas pantai negara itu.
      
Pemerintah Presiden  Sheikh Sharif Ahmed yang didukung Barat hanya menguasai  beberapa lokasi strategis  ibu kota itu. Selama beberapa minggu pemerintah itu berjanji akan melancarkan serangan baru  terhadap kelompok Al Shabaab , Hizbul Islam  yang keduanya berusaha memberlakukan hukum Islam di negara itu.
     
Dihubungi melalui telepon, Jumat, menteri negara urusan pertahanan Somalia , Sheikh Yusuf Mohammad Siad, mantan panglima perang  yang dikenal sebagai "inda’ade" atau "mata putih ", mengatakan pasukan pemerintah menewaskan lebih dari 10 gerilyawan dalam pertempuran Kamis malam itu . "Ketegangan masih tetap tinggi," kata Siad  kepada Reuters. "Mayat-mayat mereka masih tergeletak  di lokasi-lokasi pertempuran," imbuhnya.

 

 

Sumber :
ANT