WASHINGTON, KOMPAS.com - Gerah melihat seringnya pembajakan terjadi di perairan Somalia mendorong pemerintah China proaktif memberikan bantuan. Kemarin, otoritas setempat telah menyetujui untuk bekerja sama dengan pasukan koalisi patroli laut Teluk Aden untuk mencegah semakin merajalelanya pembajakan di lepas pantai Somalia.
Pejabat kementerian luar negeri Norwegia, Carl Salicath mengatakan hal itu saat peringatan setahun berdirinya Kelompok Kerja Anti-Pembajakan di lepas Pantai Somalia (CGPCS). Dia mengatakan bahwa China dan koalisi pasukan multinasional - termasuk dari NATO, Uni Eropa dan pimpinan Angkatan Laut Gabungan - akan terlibat dalam operasi anti-pembajakan di lepas pantai Somalia.
"Orang-orang China menyatakan langkah ini sangat penting untuk masa depan.Saya setuju dengannya. Ini akan membuat patroli menjadi lebih efisien," ujar Salicath, yang memimpin CGPCS.
Diplomat Norwegia berharap, negara-negara lain akan ikut bergabung menyusul China membantu mengamankan perairan Teluk Aden.
Akhir bulan lalu, seorang pejabat angkatan laut China mengusulkan berdirinya sebuah pangkalan permanen untuk mendukung kapal-kapal yang punya misi anti-pembajakan di Teluk Aden. Dalam wawancara yang diposting pada website kementerian pertahanan China, Yin Zhuo - seorang peneliti senior di pusat penelitian perlengkapan Angkatan Laut China mengatakan, pangkalan asing jelas akan memperkuat operasi untuk jangka panjang.
Usulan Yin itu muncul setelah sebelumnya, sebuah kapal kargo China dengan 25 orang awak diselamatkan dari bajak laut Somalia, setelah membayar 3,5 juta dolar sebagai uang tebusan untuk penculik mereka. Sangat banyak yang harus dikeluarkan bila mereka harus melakukan pengawalan setiap kapal yang berlabuh ke kawasan ini.

