Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 22:38 WIB
NIGERIA
Kesehatan Presiden Yar Adua Membaik
| Selasa, 26 Januari 2010 | 03:30 WIB
|
Share:

Jeddah, Senin - Presiden Nigeria Umaru Yar’Adua sedang dalam pemulihan di sebuah klinik di Arab Saudi. Duta Besar Nigeria untuk Arab Saudi Abdullah Aminchi, Senin (25/1), mengatakan, tim dokter masih menghendaki Yar’Adua cukup fit sebelum kembali memerintah.

”Presiden saat ini beristirahat di suite royal dan sedang dalam pemulihan. Dari yang saya lihat, kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan dua bulan lalu. Berat badannya mulai naik dan kondisinya terus membaik,” kata Aminchi.

Belum ada kepastian kapan Yar’Adua akan kembali ke Nigeria. Pekan lalu, Aminchi mengatakan bahwa Yar’Adua akan segera keluar dari rumah sakit setelah menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Yar’Adua berada di Arab Saudi untuk perawatan kondisi jantung. Namun, dia tidak secara formal memindahkan kekuasaan sementara kepada wakilnya. Hal itu memicu perdebatan keabsahan keputusan pemerintah selama ketidakhadiran Yar’Adua di Nigeria.

Pengadilan Nigeria, Jumat pekan lalu, memerintahkan kabinet untuk meloloskan resolusi dalam 14 hari tentang kemampuan Yar’Adua untuk memerintah. Keputusan itu dikeluarkan setelah seorang mantan anggota parlemen membawa kasus hukum melawan pemerintah ke pengadilan dan mengatakan kegagalan presiden untuk mentransfer kekuasaan melanggar konstitusi.

Yar’Adua tidak pernah terlihat di hadapan publik sejak 23 November karena berada di Arab Saudi. Oleh karena tidak ada delegasi kekuasaan, pengadilan memberi Wakil Presiden Goodluck Jonathan hak untuk menjalankan kekuasaan eksekutif.

Akan tetapi, Jonathan mengatakan dia tak bisa menjadi ”penjabat presiden” sehingga menimbulkan kebingungan soal seberapa jauh wewenang yang dimiliki Jonathan selama Yar’Adua absen.

Takut

Pada awal Desember atau 10 hari setelah Yar’Adua meninggalkan Nigeria, kabinet Nigeria telah setuju bahwa tidak ada dasar untuk menuntut pengunduran diri presiden. Kabinet juga menolak seruan agar Yar’Adua turun.

Sejumlah analis politik mengatakan, para menteri enggan menentang Yar’Adua karena takut akan kehilangan pekerjaan mereka jika Wakil Presiden Jonathan berkuasa.

Sejak saat itu, tekanan untuk meloloskan resolusi tentang kemampuan Yar’Adua memerintah terus meningkat.

Situasi di dalam negeri juga menuntut kejelasan pengambilan keputusan segera. Nigeria harus menghadapi konflik antara kelompok Kristen dan Muslim yang menewaskan ratusan orang di kota Jos pada pekan lalu.

Wakil Presiden Jonathan telah memerintahkan militer untuk mengambil alih kekuasaan di Jos dan sekitarnya setelah terjadi konflik. Oposisi mempertanyakan apakah dia secara legal bisa mengerahkan pasukan karena konstitusi hanya memberikan wewenang itu kepada presiden selaku panglima tertinggi.

Lebih dari 3.000 orang turun ke jalan menuju pusat pemerintahan di Lagos, Kamis pekan lalu. Mereka menuntut agar Presiden Yar’Adua menyerahkan kekuasaan eksekutif atau kembali ke Nigeria secepatnya. Ini merupakan demonstrasi besar kedua setelah sebelumnya massa juga melakukan protes serupa di Abuja.

Menteri Luar Negeri Ojo Maduekwe mengatakan, kesehatan adalah persoalan yang bisa berubah. ”Kami tidak pernah menutup pintu untuk segala macam pilihan. Semua pilihan tetap terbuka,” katanya.

Maduekwe juga mengatakan bahwa konstitusi tidak mensyaratkan presiden secara formal menyerahkan kekuasaan jika akan pergi.(reuters/fro)