HONGKONG, KOMPAS.com - Asia merupakan pemimpin dalam pemulihan krisis ekonomi global saat ini. Di masa mendatang, kawasan Asia akan memiliki peran besar dalam ekonomi global.
Demikian dikemukakan Direktur Pengelola Dana Moneter Internasional Dominique Strauss-Kahn, saat berbicara di Forum Keuangan Asia yang diselenggarakan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) di Hong Kong Rabu (20/1/2010).
"Sekarang adalah waktu bagi Asia untuk berkontribusi lebih banyak lagi dalam pembentukan tatanan ekonomi pascakrisis global. Ini akan menjadi sejarah bagi kawasan Asia," kata Strauss-Kahn. Saat ini merupakan momentum untuk menggeser kekuatan ekonomi global dari barat ke timur.
Menurut dia, banyak negara Asia sudah bergerak cepat untuk mengidentifikasi faktor kunci yang dapat menciptakan pertumbuhan berkelanjutan. Salah satunya adalah bahwa permintaan domestik dan regional akan memainkan peran yang penting dalam mendukung pertumbuhan.
"Ini berarti permintaan domestik dan perdagangan intra-regional harus didorong untuk mengurangi ketergantungan pada permintaan yang berasal dari luar," katanya.
Strauss-Kahn juga mengatakan, ada tiga hal yang perlu dilakukan pemerintah di negara-negara Asia untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan. Pertama, memelihara momentum reformasi di sektor keuangan, termasuk peraturan dan pengawasan yang lebih kuat.
Kedua, mengidentifikasi sumber-sumber pertumbuhan baru yang dapat mendorong permintaan swasta. Dalam hal ini, Strauss-Kahn menekankan perlunya proyek-proyek yang menyerap tenaga kerja dan regulasi pasar yang dapat meningkatkan produktivitas.
Ketiga, memperkuat kerjasama kebijakan internasional Negara anggota G20 harus terbuka dan bertanggung jawab satu sama lain dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi global yang kuat, stabil, dan berkelanjutan.
Terkait IMF sebagai lembaga pendukung kebijakan moneter negara- negara di dunia, Strauss-Kahn mengatakan, IMF dalam dua tahun terakhir telah banyak melakukan reformasi yang bertujuan untuk mempercepat respon terhadap krisis. Reformasi yang dilakukan antara lain mereformasi instrumen surat utang dan memperbaiki tata kelola. Ke depan, IMF akan lebih fokus pada dampak sistemik secara global.

