KOMPAS.com — Pemilihan umum di Ukraina, Minggu (17/1/2010), yang berlangsung lancar tanpa insiden signifikan memberikan harapan baru kepada rakyat negeri itu. Hasil sementara penghitungan suara, setelah seluruh kertas suara dihitung, Selasa, menunjukkan calon pro-Rusia, Viktor Yanukovich, mendapatkan dukungan suara terbanyak, yaitu 35,3 persen, diikuti pesaing utamanya, Yulia Tymoshenko, yang menjabat perdana menteri dengan 25 persen suara. Oleh karena tidak ada calon yang mendapatkan dukungan di atas 50 persen, maka pemilihan tahap kedua akan digelar pada 7 Februari mendatang. Sosok Yanukovich sudah dikenal sebagai figur yang sangat pro-Rusia. Dia dikalahkan tokoh pro-Barat, Viktor Yushchenko, pemimpin Revolusi Oranye, pada 2004. Fakta bahwa Yanukovich kini mengungguli telak Yushchenko adalah gambaran jelas bahwa rakyat Ukraina kecewa dengan janji-janji Revolusi Oranye yang ternyata tidak diwujudkan. Sosok Tymoshenko cukup misterius. Meski awalnya menunjukkan diri pro-Rusia, tetapi dia kemudian beralih mendukung Yushchenko dan ikut mendorong integrasi Ukraina ke dalam Uni Eropa (UE). Belakangan, dia memperbaiki kembali hubungan dengan Rusia. Pertarungan Yanukovich dengan Tymoshenko pada putaran kedua tetap menarik. Tymoshenko bisa dipastikan akan menggalang dukungan dari tokoh-tokoh pro-Revolusi Oranye. Sementara itu, Yanukovich semakin keras menyuarakan perlunya perubahan arah kebijakan Ukraina. Alhasil, pertarungan keduanya kembali mengulang pertarungan pada masa lalu, yaitu pertaruhan pengaruh Rusia melawan pengaruh Uni Eropa. Genderang ”perang” pun agaknya langsung dibunyikan. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyerukan kepada para kandidat presiden Ukraina untuk meningkatkan hubungan dengan Rusia. Presiden UE saat ini, yaitu Presiden Polandia Lech Kazynski, kemarin menyatakan, mulusnya pemilu Ukraina menunjukkan jalan Ukraina menjadi anggota UE semakin terbuka. Bagi Rusia, semakin membaiknya hubungan mereka dengan Ukraina berarti semakin aman wilayah Rusia dari potensi gangguan Barat. Dengan potensi ekonomi yang cukup kuat, Ukraina selama di bawah kepemimpinan Yushchenko pun harus menerima kenyataan bahwa mereka tetap tergantung kepada Rusia, khususnya untuk energi. Bagi UE, suara dukungan untuk bergabungnya Ukraina ke dalam keluarga besar Eropa masih belum solid. Polandia dengan kuat mendukung bergabungnya Ukraina. Adapun negara-negara ”kunci” UE, seperti Jerman dan Perancis, telah menegaskan keengganan mereka dengan adanya anggota baru. Dari persaingan pengaruh itu, Tymoshenko harus berjuang keras untuk tidak terlalu terlihat pro-Barat karena UE belum benar-benar membuka pintunya.

