Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 22:19 WIB
Ledakan dan Tembakan Terjadi Lagi di Kashmir
Josephus Primus | primus | Rabu, 6 Januari 2010 | 18:16 WIB
|
Share:

EPA/JAIPAL SINGH
Militer India berdiri mengawasi warga Kashmir yang antre untuk memilih dalam rangka pemilu tahap kedua di Desa Thanna Mandi, sekitar 200 kilometer dari Jammu, ibu kota musim dingin Kashmir, India, Minggu (23/11). Pada pemilu ini dipilih majelis parlemen negara bagian. Warga lokal menolak pemilu dan menginginkan kemerdekaan dari India.

TERKAIT:

SRINAGAR, KOMPAS.com — Tersangka kelompok kemerdekaan Kashmir pada Rabu melemparkan granat dan menembak di Srinagar, ibu kota musim panas Kashmir kelolaan India. Dermikian menurut polisi dan saksi. "Mereka melemparkan granat dan menembak di Lal Chowk," kata juru bicara polisi, merujuk pada daerah niaga utama Srinagar.
   
"Serangan itu memicu kepanikan di wilayah pasar sibuk," katanya, dengan menambahkan bahwa satu-dua pejuang dilaporkan memasuki hotel.
   
Saluran berita televisi menyiarkan langsung dari tempat kejadian dan melaporkan bahwa sedikitnya tiga anggota keamanan dan satu wartawan luka akibat kekerasan itu. Polisi dan para militer India mengepung daerah tersebut.
   
Perlawanan terhadap kekuasaan India di Kashmir sudah menewaskan lebih dari 47.000 orang sejak meletus pada 1989. Kelompok Kashmir menginginkan kemerdekaan wilayah itu dari India atau penggabungannya dengan Pakistan, yang penduduknya beragama Islam.
   
New Delhi menuduh Islamabad membantu dan melatih kelompok Kashmir India. Pakistan membantah tuduhan itu, tetapi mengaku memberikan dukungan moral dan diplomatik bagi perjuangan rakyat Kashmir untuk menentukan nasib sendiri.
   
Serangan pada 2008 di Mumbai, ibu kota keuangan dan hiburan India, memperburuk hubungan India dengan Pakistan.
   
New Delhi menghentikan pembicaraan dengan Islamabad, yang dimulai pada 2004, setelah serangan Mumbai pada November 2008, yang menewaskan lebih dari 166 orang.
   
India menyatakan memiliki bukti bahwa "badan resmi" di Pakistan terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan serangan itu. Diduga hal ini merujuk pada badan sandi dan tentara Pakistan. Islamabad membantah tuduhan tersebut.
   
Sejumlah pejabat India menuduh serangan itu dilakukan kelompok dukungan Pakistan, Lashkar-e-Taiba, yang memerangi kekuasaan India di Kashmir dan terkenal dengan serangannya terhadap parlemen India pada 2001. Namun, juru bicara Lashkar membantah terlibat dalam serangan tersebut.
   
India menyatakan, ke-10 orang bersenjata pelaku serangan itu datang dari Pakistan. New Delhi memberi Islamabad daftar 20 tersangka teroris dan menuntut penangkapan serta penyerahan mereka.
   
Perdana Menteri India Manmohanh Singh pada pertengahan Juli menyatakan bahwa perundingan perdamaian dengan Pakistan akan tetap tertahan sampai negara itu menindak yang bertanggung jawab terhadap serangan di Mumbai tersebut.
   
Pernyataan Singh itu tampak bertentangan dengan pernyataan bersama dengan Perdana Menteri Pakistan Yusuf Raza Gilani, saat kedua pemimpin tersebut mengatakan bahwa tindakan terhadap terorisme "tidak boleh dikaitkan" dengan pembicaraan itu.
   
Dalam pernyataannya kepada media India, Singh mengatakan, "Harus ada upaya jujur sungguh-sungguh untuk menjembatani kesenjangan, yang memisahkan kedua negara itu."
   
Pada Agustus, Pakistan menjamin India mengenai kerja sama penuh dalam mencegah teror setelah peringatan dari Singh bahwa pejuang di Pakistan merencanakan serangan lagi.
   
Perdana Menteri Pakistan itu juga berjanji melakukan segala sesuatu untuk membawa pihak yang bertanggung jawab atas serangan Mumbai ke pengadilan.
   
Pakistan menangkap beberapa orang yang dituduh terlibat dalam serangan itu, termasuk tersangka dalang Zakiduddin Lakhvi.
   
India menarik 30.000 tentara dari Kashmir setelah serangan gerilyawan reda di wilayah Himalaya yang berbatasan dengan Pakistan itu. Demikian pengumuman tentara pada tengah Desember 2009.
   
Juru bicara tentara menyatakan, pasukan darat ditarik dari bagian Rajouri di selatan dan Poonch pada dua bulan sebelumnya.
   
Penarikan itu adalah salah satu yang terbanyak sejak 1999, ketika India dan Pakistan, yang sama memiliki senjata nuklir, terlibat perang enam pekan di wilayah Himalaya. Perang tersebut menewaskan 1.000 tentara di kedua pihak.

Sumber :
Ant