TOKYO, KOMPAS.com — Bagi Atsushi Nakanishi yang kehilangan pekerjaannya di bulan Desember 2009, rumahnya kini adalah ruang yang tak lebih besar dari peti mati, yaitu salah satu unit dari hotel kapsul murahan di Tokyo.
"Tempat ini sekadar untuk tidur," katanya sambil mengelus jas hitamnya yang merupakan salah satu dari sisa harta bendanya karena barang-barang lain terpaksa dibuang setelah ia kehilangan tempat tinggal.
Ketika Hotel Kapsul Shinjuku 510 pertama kali dibuka dua dekade yang lalu, tujuannya adalah untuk memberikan tempat bermalam bagi karyawan yang ketinggalan kereta untuk pulang.
Namun kini kapsul-kapsul yang ukurannya tak lebih dari 2 x 1,5 m itu telah menjadi pilihan ekonomis bagi orang-orang yang kesulitan keuangan selama resesi terberat di Jepang sejak Perang Dunia II. Uang sewa kamar kapsul ini kira-kira 640 dollar AS per bulan. Sekilas terlihat mahal kalau dirupiahkan. Namun, ini jauh lebih murah daripada menyewa apartemen. Lagi pula, di hotel kapsul itu tak perlu uang muka, tak ada biaya tambahan untuk fasilitas-fasilitas lain, seperti seprei bersih, serta kamar mandi dan sauna umum. Kamar kapsul itu hanya dilengkapi lampu, TV kecil dengan ear-phone, selimut tipis, beberapa gantungan pakaian, dan bantal kepala yang keras. Di mana-mana ada asap rokok dan kamera keamanan, suara dari kapsul-kapsul tetangga juga bisa terdengar. Jadi, sulit tidur nyenyak di sana. Barang-barang pribadi yang tak muat di kamar bisa disimpan di loker. Hotel tersebut juga menyediakan ruang makan umum.
Selama krisis keuangan global pada 2009, banyak orang kehilangan pekerjaan. Dengan begitu, mereka kehilangan fasilitas rumah dari perusahaannya atau karena tak sanggup membayar uang sewa sehingga menjadi tunawisma.
"Pada musim dingin selama Tahun Baru ini, pemerintah berniat sebisa mungkin menolong semua yang sedang kesulitan," kata PM Yukio Hatoyama dalam suatu klip video yang diunggah ke situs YouTube, 26 Desember 2009. "Kau tidak sendirian."
Jumat (1/1/2010), ia mengunjungi penampungan yang dihuni 700 tunawisma dan menyatakan kepada wartawan, "Bantuan harus datang segera."
Manajemen salah satu hotel kapsul menyatakan bahwa dari 300 kamar, 100 kamar kini disewakan per bulan. Pemerintah juga sudah memperbolehkan penggunaan alamat hotel kapsul dalam CV sehingga memudahkan para penghuni mencari pekerjaan.
Pemerintah Jepang menyatakan bahwa jumlah tunawisma di Jepang kira-kira 15.800 orang. Namun, angka ini belum memperhitungkan tunawisma "terselubung" seperti para penghuni hotel kapsul ini. Ada pula tunawisma lain yang menginap di warnet dan pemandian.
Citra Jepang sebagai negara maju dan makmur sejak 1970 kini tercoreng. Tingkat penganggurannya 5,2 persen (rekor tertinggi untuk Jepang), jumlah rumah tangga yang terpaksa mengandalkan tunjangan kesejahteraan meningkat tajam, dan rata-rata tingkat kemiskinannya 15,7 persen (tertinggi di antara negara maju).
"Ketika Jepang mengalami kemajuan ekonomi pesat, standar kehidupan meningkat secara keseluruhan sehingga perbedaan kelas mengabur," ujar Profesor Hiroshi Ishida dari Universitas Tokyo. "Tapi dengan perekonomian yang tersendat, perbedaan kelas kembali terlihat," tambahnya.
Pemerintah Jepang telah mengucurkan dana untuk sistem kesejahteraan, dengan bantuan tunai bagi rumah tangga yang memiliki anak, dan juga dengan meniadakan uang sekolah pada SMA negeri.
Namun, mencari pekerjaan tetap sulit di Jepang. Contohnya Naoto Iwaya. Pada usia 46 tahun, dia kini kehilangan pekerjaan dan terpaksa tinggal di hotel kapsul. Namun, itu pun takkan bertahan lama karena ia mengaku, tabungannya hanya cukup untuk minggu depan dan setelah itu, "Aku tak tahu harus ke mana lagi," keluhnya.


