KOMPAS.com — Menyusul percobaan pengeboman pesawat 25 Desember 2009 oleh Umar Farouk Abdulmutallab, para ahli mengatakan bahwa sebenarnya ada teknologi yang semestinya bisa mencegah kejadian ini.
Secara kualitas, teknologi ini bisa menunjukkan benda-benda yang disembunyikan di balik pakaian. Namun, para pembela hak privasi memprotes. Sebab, teknologi itu melanggar batas pribadi sehingga muncul polemik batas layak untuk keamanan.
Teknologi pemindai seperti gelombang milimeter dan sinar-x hambur-balik sebenarnya bisa memperlihatkan lekuk tubuh dan menyingkapkan benda-benda yang mencurigakan. Mesin seperti ini, bila digunakan, lebih efektif daripada detektor logam yang lazim di bandara. Pihak yang pro mengatakan bahwa ini diperlukan demi mencegah usaha terorisme.
Di pihak lain, mereka yang kontra mengingatkan bahwa teknologi ini bukan solusi sempurna. Penggunaannya harus dikendalikan dengan ketat. Kalau tidak, ada kemungkinan sosok telanjang calon penumpang bisa bocor dan terpampang di internet.
"Pertanyaan utamanya adalah bagaimana menyeimbangkan batas pribadi dan keperluan pengamanan untuk negara kita," kata Jason Chaffetz, perwakilan Republikan dari Utah.
Jason sendiri telah mensponsori kebijakan di kongres tahun ini untuk menggunakan teknologi tersebut sebatas hanya sebagai metode pemindai sekunder. Untuk meminimalkan kemungkinan negatif, diusulkan pula hukuman untuk pegawai pemerintah yang memperbanyak atau menyebarkan citra-citra pindaian tersebut. Sayangnya, sampai saat ini usulan itu belum disetujui senat.
Sudah di 19 bandara
Pemindai seluruh tubuh digunakan di 19 bandara di AS. Sebanyak 6 di antaranya memakai alat itu sebagai metode utama pemindaian. Pada awal tahun ini, Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) mengumumkan rencana membeli 150 mesin dan memakainya sebagai metode utama pemindaian penumpang pesawat.
Akan tetapi, pemasangan alat itu langsung diprotes 24 organisasi hak privasi kepada Sekretaris Badan Keamanan Negara AS, juga pada Electronic Privacy Information Center dan Uni Kebebasan Sipil AS. Pihak yang kontra keberatan jika sosoknya ditelanjangi secara digital.
Tergantung dari teknologi yang digunakan, wajah penumpang bisa dikaburkan dan citra tubuh bisa diminimalkan menjadi garis-garis putih di atas bidang hitam saja. Selain itu, orang yang mengawasi pemindaian harus ada di ruang yang berbeda sehingga tak bisa melihat siapa yang melewati alat pemindai itu.
Alat-alat itu juga bisa dimodifikasi sehingga semua citranya tak tersimpan. Kristin Lee, juru bicara TSA, juga mengatakan bahwa prosedur itu "terserah kepada penumpang" sehingga orang yang menolak juga bisa diperiksa dengan cara tradisional, yaitu diraba seluruh tubuhnya.
Tidak bebas kelemahan
Diingatkan pula bahwa teknologi pemindaian ini juga mempunyai keterbatasan. Dia tidak bisa mendeteksi benda dalam rongga tubuh (seperti dalam mulut) atau benda yang tersembunyi di lipatan kulit orang yang gemuk.
Bruce Schneier, pakar keamanan yang meragukan teknologi itu, berpendapat bahwa kalaupun cara ini digunakan, maka para teroris pasti bisa memakai cara lain. Menurutnya, dana jutaan dollar untuk teknologi ini lebih baik digunakan untuk menginvestigasi dengan mencegah pengebom datang ke bandara.
Michael Chertoff, mantan sekretaris Badan Keamanan Negara AS, tetap menganggap bahwa, "Semakin dipersulit menyembunyikan senjata, makin sedikit orang yang mau atau bisa menyelundupkan senjata," dan akan lebih sulit untuk membuat senjata yang efektif.


