Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 11:42 WIB
Iran Ancam Tampar "Mulut" Inggris
Taufiq Zuhdi | tof | Selasa, 29 Desember 2009 | 23:41 WIB
|
Share:

rahezab
Demonstran adri kelompok oposisi dan aparat keamanan Iran saat terlibat bentrokan, Minggu.

TERKAIT:

TEHERAN, KOMPAS.com - Kecaman dunia internasional atas apa yang terjadi di Iran pada peringatan Hari Asyura, Minggu lalu berbuntut. Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki yang sewot dengan berbagai kritikan itu menyerang balik.

Salah satunya kepada Inggris. Ia mengancam akan menampar mulut pejabat yang telah mengata-ngatai Iran tersebut. Ancaman itu muncul saat Mottaki memanggil Duta Besar Inggris di Teheran untuk menjelaskan sikap pemerintahnya. Mottaki yang marah besar menganggap kritikan Inggris itu tak masuk akal.

"Jika mereka tidak berhenti berkomentar yang masuk akal, rasanya mulut mereka perlu ditampar," tutur Mottaki seperti dikutip kantor berita ISNA.

Sebelumnya, Mottaki saat berbicara dengan TV satelit berbahasa Inggris juga menyerukan kepada Inggris agar mengakhiri kritikan yang dianggap omong kosong tersebut dan dan menghentikan campur tangannya dalam urusan internal Iran.

Seperti diwartakan, sebuah bentrokan mematikan meletus pada hari Minggu ketika ribuan pendukung oposisi menggunakan Hari Asyura, sebagai momentum untuk melakukan protes anti-pemerintah ke jalan-jalan. Delapan orang tewas ketika pasukan keamanan menggunakan gas air mata, pentungan dan peluru untuk mendorong kembali ribuan orang yang telah melempari mereka dengan batu.

Pada hari Senin, Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband memuji keberanian para pendukung oposisi Iran tersebut selama ritual Asyura. "Sangat mengganggu bagi kami mendengar laporan tentang kurangnya pengendalian oleh aparat keamanan dalam peristiwa itu," kata Miliband dalam pernyataannya.

Pada hari Selasa, utusan Inggris Gass Simon dipanggil oleh kementerian luatr negeri Iran untuk memberikan pertanggungjawaban. "Duta Besar Inggris dipanggil kementerian luar negeri dan pemerintah Iran memberikan protes atas sikap Inggris dalam urusan internal Iran," ungkap kantor berita Fars.

Sebelumnya, juru bicara kementerian luar negeri Ramin Mehmanparast seperti dikutip kantor berita resmi IRNA menyatakan, Teheran berencana memanggil Gass untuk menjelaskan peristiwa Hari Asyura tersebut. Menurut Mehmanparast, apa yang dilakukan pasukan keamanan saat itu hanyalah reaksi atas tindakan para perusuh dan tidak semestinya negara lain campur tangan.

"Beberapa negara Barat salah melakukan perhitungan ketika mereka membandingkan gerakan beberapa ribu penduduk Iran tersebut dengan menyebut puluhan juta," tambahnya.

Sumber :
AFP